Seorang hakim federal di San Francisco baru saja mengeluarkan vonis yang sementara menghalangi Pentagon AS untuk memberi label kepada perusahaan kecerdasan buatan, Anthropic, sebagai “risiko rantai pasokan.” Putusan ini dari Hakim Distrik AS, Rita Lin, menangguhkan sebuah arahan yang dikeluarkan oleh Presiden Trump dan Sekretaris Pertahanan Pete Hegseth yang bertujuan untuk memasukkan perusahaan tersebut dalam daftar hitam dari kontrak pertahanan.
Pengadilan menemukan bahwa upaya pemerintah untuk menandai lab AI asal Amerika ini sebagai ancaman terhadap keamanan nasional kemungkinan besar melampaui wewenang hukumnya. Hakim Lin menggambarkan langkah-langkah tersebut sebagai “Orwellian,” dan menyoroti bahwa penunjukan ini tampaknya sebagai respons punitif terhadap penolakan Anthropic untuk membiarkan model AI-nya, Claude, digunakan dalam perang mematikan yang otonom dan pengawasan massal di dalam negeri.
Putusan ini mencerminkan konflik yang sedang berlangsung antara Silicon Valley dan pemerintah terkait etika AI dan keamanan nasional, serta memiliki potensi untuk menjadi preseden bagi cara AS mengatur vendor AI domestik.
Pembangkangan Terhadap Penunjukan “risiko rantai pasokan”
Anthropic mengajukan gugatan awal bulan ini, mengklaim bahwa label “risiko rantai pasokan” yang biasanya ditujukan untuk entitas asing seperti Huawei, telah melanggar hak kebebasan berbicara menurut Amandemen Pertama dan hak atas proses hukum yang adil menurut Amandemen Kelima. Perusahaan ini berargumen bahwa penunjukan tersebut merupakan tindakan balasan setelah negosiasi kontrak yang gagal terkait pengamanan keselamatan AI. Dalam putusannya yang terdiri dari 43 halaman, Hakim Lin menyatakan bahwa jika kekhawatiran utama Pentagon adalah “integritas rantai komando,” maka mereka dapat dengan mudah menghentikan penggunaan Claude.
Alih-alih, langkah-langkah luas ini tampak dirancang untuk menghentikan Anthropic dengan melarang semua kontraktor federal menggunakan teknologi perusahaan tersebut. Kemenangan hukum ini mengikuti bulan-bulan ketegangan antara Silicon Valley dan pemerintahan Trump terkait penggunaan AI oleh militer. Sementara pesaing seperti OpenAI dilaporkan telah mencapai kesepakatan dengan Pentagon, Anthropic tetap mempertahankan batasan ketat terhadap penggunaan modelnya untuk sistem senjata otonom.
Tensi Industri Terkait Etika AI dan Penggunaan Militernya
Pertarungan ini menunjukkan kekhawatiran yang lebih luas di industri mengenai keseimbangan antara penerapan AI yang cepat dan jaminan etika. Berdasarkan laporan sebelumnya dari DeFi Planet, CEO Anthropic, Dario Amodei, kabarnya telah membuka kembali negosiasi dengan Kementerian Pertahanan AS dalam usaha mendesak untuk mempertahankan akses ke kontrak Pentagon dan menghindari penunjukan sebagai risiko rantai pasokan oleh pemerintahan Donald Trump.
Ini adalah contoh nyata dari bagaimana perkembangan teknologi yang cepat dapat menimbulkan dilema etika dan kebijakan yang kompleks. Dengan dinamika yang terus berubah ini, investor serta penggiat AI harus terus mengamati setiap langkah dan perkembangannya di dunia yang penuh tantangan ini.

