Infoblox Threat Intel menemukan bahwa lebih dari 65% pelanggan cloud mereka melakukan query DNS ke domain proxy residential pada tahun 2026.
Proxy residential dapat menimbulkan risiko hukum atau kerusakan reputasi jika disalahgunakan oleh aktor jahat.
Walaupun tidak semua proxy residential ilegal, para penyalahguna sering memanfaatkan anonim serta proxy residential yang murah dan tidak sah untuk melakukan tindakan yang mungkin tidak etis, bahkan terkadang ilegal.
Banyak pengguna yang memasang VPN gratis, aplikasi streaming, dan bahkan aplikasi produktivitas mungkin tidak menyadari bahwa mereka sering kali tak sengaja menjadi produk itu sendiri.
Prinsip “tidak ada makan siang gratis” sangat berlaku di sini, karena banyak layanan ‘gratis’ ini pada dasarnya menyewakan identitas jaringan korban yang tidak curiga kepada orang asing, yang banyak di antaranya menggunakannya untuk tujuan jahat.
Praktik ini dianggap sah oleh banyak aplikasi, namun memiliki implikasi serius terhadap keamanan dan privasi. Pengguna sering kali diidentifikasi sebagai penipu atau perlu verifikasi tambahan karena sistem reputasi IP di pusat data mencatat permintaan yang tampaknya berasal dari jaringan korban.
Menciptakan Anonimitas untuk Alasan Tertentu
Layanan yang digunakan di sini disebut sebagai ‘proxy residential’, dan meski ada penyedia yang legit, banyak sumbernya diragukan. Hal ini disebabkan tingginya permintaan untuk proxy residential ‘bersih’.
Penelitian dari Infoblox Threat Intel menunjukkan bahwa situasinya lebih parah dari yang diperkirakan sebelumnya, karena hampir dua pertiga (65%) pelanggan Threat Defense Cloud mereka melakukan query DNS ke domain yang digunakan untuk mengakses atau mengatur jaringan proxy residential pada tahun 2026, dengan total lebih dari 500 miliar query per bulan.
Model ini berbeda dengan anonymizers seperti Tor atau VPN komersial yang menciptakan lalu lintas anonim melalui node sukarela untuk yang pertama, dan IP pusat data untuk yang terakhir. Proxy ini memanfaatkan perangkat keras yang ada di jaringan residential seseorang, seperti router rumah, ponsel, perangkat IoT, atau apapun yang bisa menjalankan layanan proxy.
Yang menarik, kebanyakan layanan ini tidak pernah mendapatkan izin dari ‘hostnya’ atau menyembunyikan klausul tersebut dalam Perjanjian Lisensi Pengguna Akhir (EULA), yang sering kali membuat korban yang tidak curiga ‘membantu’ dengan aktivitas jahat seperti penipuan, pengambilan data yang tidak diperbolehkan, dan bahkan layanan streaming yang mengabaikan batasan regional.
Korban menderita bukan hanya karena layanan semacam ini pada dasarnya membebankan biaya pada koneksi mereka yang ada, memperlambat internet mereka, tetapi juga bisa membuat alamat IP atau jaringan mereka dianggap tidak dapat dipercaya atau bahkan penipu jika kejadian tersebut sering terjadi. Ini bisa membuka mereka untuk masalah hukum. Membuktikan bahwa mereka hanya conduit dan bukan pelaku dari aktivitas tersebut itu sulit dan terkadang mustahil.
Menghindari hal ini lebih mudah diucapkan dibandingkan dilakukan, tetapi ada cara untuk mengurangi kerentanan terhadap jenis penyalahgunaan ini. Audit perangkat lunak harus menjadi garis pertahanan pertama. Mengetahui apa yang berjalan di semua perangkat Anda dan apakah itu dapat dipercaya sangat penting untuk menghindari keterpaparan.
Perhatikan VPN gratis, perangkat IoT murah dari produsen yang meragukan, perangkat lunak streaming, dan bahkan ekstensi browser, semua ini bisa mengekspos Anda terhadap aktor jahat. Menginvestasikan pada router atau layanan perangkat lunak yang memblokir permintaan semacam ini juga sangat membantu, begitu pula memanfaatkan DNS Perlindungan untuk memantau jaringan Anda.
Selain itu, pengguna juga bisa menggunakan layanan untuk memantau dan memeriksa profil risiko IP mereka, memungkinkan mereka untuk menentukan apakah mereka sudah menjadi korban penyalahgunaan atau belum.

