Hampir tiga dekade setelah seorang petani di Texas mendonasikan lahan seluas 87 hektar untuk rekreasi komunitas, warga setempat kini protes terhadap rencana pengembangan lokasi tersebut menjadi pusat data komersial yang luas.
Lahan yang diperdebatkan ini terletak di Taylor, Texas. Penduduk lama di sana mengenang generasi anak-anak yang menggunakan lapangan terbuka untuk olahraga, camping, dan berkumpul.
Berdasarkan catatan akta dari Juli 1999, petani lokal bernama Mr. Bland mentransfer properti tersebut hanya seharga $10 melalui pengaturan kepercayaan publik.
Warga Melawan Usulan Pusat Data Besar
Pamela Griffin, yang keluarganya telah tinggal di sebelah properti itu selama beberapa dekade, mengingat pernyataan Bland kepada ayahnya, “Saya melihat anak-anak tidak memiliki tempat bermain.”
Dia juga mengingat Bland mengatakan, “Saya berpikir untuk memberikan lahan ini sebagai taman karena anak-anak ini butuh tempat bermain.”
Catatan publik menunjukkan bahwa properti tersebut berpindah melalui beberapa entitas nirlaba dan pemerintah sebelum akhirnya sampai ke Kota Taylor pada tahun 2003.
Lima tahun kemudian, otoritas kota mentransfer kepemilikan kepada Taylor Economic Development Corporation seharga sekitar $15.000, yang secara substansial mengubah arah administratif properti tersebut.
Kontroversi ini semakin intensif pada tahun 2025 setelah Taylor Economic Development Corporation menjual lahan yang sama kepada pengembang Blueprint dengan harga $10 juta.
Blueprint berencana membangun pusat data seluas 135.000 kaki persegi di samping lingkungan pemukiman, infrastruktur kereta api, dan gardu listrik yang sudah ada dekat rumah Griffin.
Griffin menjelaskan bahwa ia hanya mengetahui tentang fasilitas yang diusulkan setelah para pengorganisir lingkungan menghubungi warga untuk mengumpulkan penolakan terhadap rencana pembangunan pada tahun 2025.
Awalnya, dia mengaku keluarganya tidak mengetahui banyak tentang pusat data modern sebelum meneliti fasilitas dan mempertimbangkan konsekuensi bagi komunitas pemukiman di sekitar.
Para penduduk kemudian mengungkapkan keprihatinan tentang kebutuhan listrik, kebisingan industri, dan dampak lingkungan.
Mereka juga khawatir tentang pengaruh potensialnya terhadap sistem air lokal di sekitar area pengembangan yang diusulkan.
Koresponden dari otoritas kota dilaporkan meyakinkan warga tentang beberapa langkah perlindungan yang akan mengurangi potensi gangguan terkait dengan operasi fasilitas tersebut di dekatnya.
Otoritas membahas langkah mitigasi, termasuk pemisah taman, sistem pendingin air tertutup, dan gardu listrik khusus.
Meski begitu, beberapa pemilik rumah tetap khawatir bahwa kedekatan dengan infrastruktur digital industri dapat menurunkan nilai properti di sekitarnya.
Tekanan Hukum dan Keuangan Seputar Pengembangan
Pejabat kota berpendapat bahwa klasifikasi zonasi yang ada sangat membatasi wewenang pemerintah kota terkait penggunaan komersial yang diizinkan dalam batas wilayah pengembangan pekerjaan yang ditetapkan.
Investigasi dari 404 Media menunjukkan bahwa pembatasan municipal sebagian besar melibatkan pengawasan arsitektur, karena regulasi zonasi yang berlaku sudah mengizinkan fasilitas teknologi industri dalam distrik tersebut.
Pengembang tampaknya masih memerlukan persetujuan perencanaan dan izin konstruksi sebelum aktivitas pembangunan yang signifikan dapat dimulai secara legal di area properti yang diperdebatkan.
Sementara itu, pejabat kota terus mempertahankan kesepakatan tersebut dengan proyeksi manfaat finansial yang diharapkan dari peningkatan penerimaan pajak komersial dalam dekade mendatang.
Otoritas memperkirakan proyek ini dapat menghasilkan sekitar $30 juta dalam pendapatan pajak tambahan, termasuk hampir $20 juta yang dialokasikan untuk pendanaan pendidikan lokal.
Meski ada proyeksi tersebut, para kritikus berargumen bahwa sengketa ini semakin mencerminkan ketegangan yang lebih luas antara ambisi pengembangan pemerintah kota dan harapan komunitas yang telah lama ada seputar lahan publik yang didonasikan.

