Poin Penting
Rupiah dibuka melemah 0,02% ke level Rp 18.151 per dolar AS pada perdagangan Senin (2/11/2026).
Pelemahan rupiah terjadi seiring dengan melemahnya mayoritas mata uang Asia seperti yen, won, dan ringgit.
Pasar cermati pemilu paruh waktu AS, data ketenagakerjaan, hingga isu geopolitik minyak mentah.
JAKARTA, investortrust.id – Rupiah mengalami penurunan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada awal perdagangan Senin (2/11/2026). Nilai tukar rupiah melemah 0,02% jika dibandingkan dengan penutupan Jumat sebelumnya, mencapai posisi Rp 18.151 per dolar AS.
Tidak hanya rupiah yang melemah, beberapa mata uang di Asia pun menunjukkan tren serupa. Sebagai contoh, yen Jepang jatuh 0,23%, yuan China turun 0,02%, won Korea Selatan melemah 0,59%, ringgit Malaysia berkurang 0,25%, dan dolar Singapura juga mengalami penurunan sebesar 0,12%.
Namun, di sisi lain, ada beberapa mata uang di kawasan Asia yang berhasil menguat terhadap dolar AS. Rupee India menguat 0,32%, peso Filipina naik 0,04%, dan baht Thailand bertambah 0,05%.
Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro, menjelaskan bahwa Indeks Dolar AS (DXY) melemah 0,15% ke level 101,88 tetapi masih menunjukkan penguatan 3,62% secara year-to-date. Hal ini terjadi seiring penurunan imbal hasil obligasi US Treasury, yang turut mengurangi momentum penguatan dolar AS.
Pada pekan ini, perhatian pasar akan fokus pada pemilihan paruh waktu AS yang akan berlangsung pada 3 November, serta laporan ketenagakerjaan AS untuk bulan Oktober yang dijadwalkan dirilis pada Jumat mendatang.
Selain itu, kinerja keuangan beberapa perusahaan teknologi besar juga menjadi faktor penting yang akan mempengaruhi sentimen risiko di pasar global.
The Fed masih mempertahankan sikap hawkish dalam kebijakan moneternya setelah menahan suku bunga acuan (FFR) di level 3,75–4,00% pada bulan Oktober. Sementara itu, pasar masih memperkirakan adanya kemungkinan kenaikan suku bunga lanjutan pada bulan Desember. Pertumbuhan ekonomi AS yang positif pada kuartal III-2026 dan inflasi PCE yang masih di atas target menunjukkan bahwa pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut masih mungkin terjadi.
Namun, menurut Andry, penurunan tajam imbal hasil US Treasury menunjukkan bahwa ada kekhawatiran di pasar terkait pengetatan kondisi keuangan dan Prospek pertumbuhan ekonomi.
Harga minyak mentah Brent melonjak 2,40% menjadi US$ 117,6 per barel pada perdagangan Jumat tapi turun sekitar 1,4% menjadi USD 111,8 per barel pada pagi ini. Penurunan ini dipicu oleh munculnya indikasi kemajuan dalam diplomasi antara AS dan Iran.
Pejabat Iran dan Qatar melanjutkan negosiasi selama akhir pekan, sementara OPEC+ tetap mempertahankan target produksi minyak untuk bulan Desember. Meski begitu, insiden yang melibatkan kapal tanker di sekitar Selat Hormuz dan risiko meningkatnya eskalasi konflik setelah pemilu paruh waktu AS akan terus menjaga premi risiko geopolitik pada level yang tinggi.

