[SINGAPURA] China, Korea Selatan, dan Singapura kini jadi pemimpin di kawasan Asia-Pasifik dalam adopsi dan kesiapan kendaraan listrik, menurut sebuah indeks terbaru.
Negara-negara Eropa Barat juga berada di peringkat teratas pada Indeks Negara Ramah EV yang dibuat oleh layanan perbandingan asuransi dari Australia, Compare The Market.
Indeks ini memberikan penilaian kepada 25 negara berdasarkan akses pengisian daya, pangsa pasar di tahun 2025, biaya operasional, insentif pemerintah, dan larangan mesin pembakaran.
Norwegia menduduki posisi teratas dengan skor 75,43.
China berada di urutan kedua dengan nilai 75,27, sementara Korea Selatan ada di posisi ketiga dengan skor 68,17.
Singapura menjadi satu-satunya negara Asia-Pasifik lainnya yang masuk dalam 10 besar, menempati urutan ketujuh dengan skor 54,59.
Singapura juga mencetak skor tinggi pada ukuran pangsa pasar EV, berada di urutan kedua. Dalam hal aksesibilitas pengisi daya, negara ini mencatat 10,54 pengisi daya per 1.000 pengemudi dan menempati posisi ketiga. Namun, biaya berkendara di Republik ini termasuk yang tertinggi, mencapai US$56,10 per 100 km.
Empat besar diisi oleh negara-negara Eropa. Prancis berada di urutan keempat, kemudian diikuti oleh Belanda dan Swedia.
Finlandia menduduki peringkat kedelapan, Inggris ada di urutan kesembilan, dan Jerman melengkapi daftar sepuluh besar.
Negara-negara lainnya di Asia-Pasifik tidak terlalu berhasil, dengan India di posisi ke-16, Australia di peringkat ke-19, Jepang di urutan ke-20, dan Selandia Baru menempati posisi ke-22.
Contohnya, Australia memiliki biaya pengisian daya yang cukup rendah, namun ketersediaan pengisi daya dan pangsa pasar EV-nya tergolong rendah. Selain itu, negara ini juga tidak memiliki insentif pemerintah untuk kendaraan listrik, berdasarkan laporan indeks tersebut.
Compare The Market menyebutkan bahwa temuan indeks ini, yang pertama kali dipublikasikan pada bulan Mei, menunjukkan bahwa tingginya biaya pengisian daya tidak menghalangi adopsi kendaraan listrik.
Banyak negara dengan tingkat integrasi EV yang lebih tinggi juga memiliki biaya per 100 km yang cukup besar, yang menunjukkan bahwa faktor lain mungkin lebih berpengaruh dalam mendorong adopsi kendaraan listrik.

