[BANGKOK] Ekspor Thailand yang sudah disetujui oleh bea cukai mengalami peningkatan 10,6 persen pada bulan Mei dibandingkan tahun lalu, kata kementerian perdagangan pada hari Kamis (25 Juni). Meskipun ada kenaikan, angka ini sedikit lebih rendah dari ekspektasi analis.
Rata-rata peningkatan untuk bulan Mei dibandingkan dengan perkiraan peningkatan 12 persen dalam jajak pendapat Reuters dan mengalami penurunan dari kenaikan 23,1 persen pada bulan sebelumnya.
Impor juga meningkat 35,1 persen pada bulan Mei dibandingkan tahun lalu, yang sejalan dengan perkiraan jajak pendapat.
Thailand mencatat defisit perdagangan sebesar US$5,71 miliar untuk bulan ini, yang lebih baik dibandingkan dengan perkiraan defisit sebesar US$6,12 miliyar.
Kementerian memperkirakan ekspor akan tumbuh 8 persen sepanjang tahun ini, didorong oleh meredanya ketegangan global dan permintaan teknologi yang kuat, kata Nantapong Chiralerspong, kepala Biro Kebijakan dan Strategi Perdagangan, dalam sebuah briefing.
Dalam lima bulan pertama tahun 2026, ekspor meningkat 17 persen dibandingkan tahun lalu. Ekspor Thailand juga tumbuh 12,9 persen pada tahun lalu.
Pada bulan Mei, pengiriman ke Amerika Serikat, pasar terbesar Thailand, meningkat 33,5 persen dibandingkan tahun lalu, sementara pengiriman ke China turun 2,5 persen, menurut kementerian.
Ekspor diperkirakan akan mencatat pertumbuhan satu digit setiap bulan hingga akhir tahun, tambah Nantapong.
Peningkatan ekspor ke Amerika Serikat di tengah ketidakpastian tarif telah mendorong pertumbuhan tahun ini, meskipun perkiraan kementerian menunjukkan bahwa tren ini akan melambat.
Langkah-langkah tarif dari AS diperkirakan tidak akan lebih ketat dari yang diantisipasi, dan eksportir diyakini dapat melakukan penyesuaian, tambah kementerian.
Pada hari Rabu, bank sentral juga memutuskan untuk tidak mengubah suku bunga acuan dan menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi untuk tahun 2026 menjadi 2,3 persen, dengan ekspor diperkirakan naik sebesar 14 persen.

