AirAsia X, maskapai penerbangan berbiaya rendah asal Malaysia, mengumumkan pada hari Kamis (11 Juni) bahwa peluncuran layanan yang direncanakan melalui Bahrain telah ditunda hingga paling tidak bulan Agustus. Penundaan ini disebabkan oleh konflik yang terjadi di Timur Tengah.
Awalnya, AirAsia berencana untuk memulai rute tersebut pada bulan Juni, yang menghubungkan Kuala Lumpur ke Bahrain dan dilanjutkan menuju bandara Gatwick di London. Namun, mereka memperkirakan layanan ini baru bisa dimulai pada bulan Agustus atau September, tergantung pada kondisi pasar yang ada.
Maskapai ini juga menyampaikan bahwa penumpang yang terdampak akan diberikan opsi pengembalian dana atau penjadwalan ulang penerbangan mereka.
AirAsia menegaskan komitmennya untuk membuka hub di Bahrain, meski mereka perlu mengambil pendekatan yang lebih hati-hati. Manajer Umum AirAsia, Benyamin Ismail, menyatakan, “Bahrain terus memegang peranan penting dalam rencana pertumbuhan jangka panjang kami dan strategi konektivitas regional.”
Lebih lanjut, Benyamin menambahkan, “Kami tetap fokus pada peluncuran layanan ke Bahrain dan London Gatwick, saat kondisi operasional lebih sesuai dengan tujuan operasional dan komersial kami.”
Dalam beberapa waktu terakhir, AirAsia mengalami dampak besar akibat fluktuasi harga bahan bakar yang tidak stabil. Mereka bahkan melaporkan kerugian bersih dalam sebuah kuartal sebelumnya, sehingga terpaksa memangkas 10 persen penerbangan dan menerapkan biaya tambahan sekitar 20 persen untuk bahan bakar.
Situasi saat ini menunjukkan bahwa maskapai penerbangan harus beradaptasi dengan cepat terhadap dinamika pasar yang tidak menentu. Bagi AirAsia, keputusan untuk menunda peluncuran ini tentunya merupakan langkah strategis untuk memastikan keselamatan dan kepuasan pelanggan tetap terjaga.
Dengan fokus pada ketahanan dan inovasi, AirAsia berharap dapat tetap bersaing di industri penerbangan yang terus berubah. Banyak yang menantikan bagaimana maskapai ini akan menjalankan rencana jangka panjangnya di Bahrain dan Inggris, serta langkah-langkah apa yang akan diambil untuk kembali ke jalur pertumbuhan yang positif.

