Uni Eropa memberikan peringatan bahwa benua ini mungkin akan menghabiskan beberapa tahun mendatang untuk menghadapi dampak dari perang antara AS dan Israel di Iran. Mereka menunjukkan bahwa lonjakan harga energi tidak akan mereda dalam waktu dekat.
Presiden Komisi Eropa, Ursula von der Leyen, menyampaikan hal ini dalam sebuah pernyataan di depan parlemen Eropa di Strasbourg pada Rabu (29 April). “Kita harus mengakui kenyataan pahit ini: konsekuensi dari konflik ini mungkin akan terus terasa selama berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun ke depan,” ungkapnya.
Peringatan yang mengejutkan ini hadir di saat Eropa mengalami tantangan dalam sektor energi dan pasokan akibat perang, yang mengakibatkan Iran memblokir Selat Hormuz—jalur air yang vital untuk pengiriman komersial. Saat ini, Eropa tertekan oleh tingginya harga minyak dan gas, serta khawatir akan kelangkaan produk penting seperti bahan bakar jet dan pupuk.
Von der Leyen juga mencatat bahwa sejak perang dimulai pada akhir Februari lalu, Uni Eropa telah mengeluarkan tambahan 27 miliar euro (sekitar S$40,4 miliar) untuk impor bahan bakar fosil. Lembaga pemikir Bruegel memperkirakan bahwa negara-negara UE telah mengkomitmenkan lebih dari 10 miliar euro untuk melindungi konsumen dan bisnis dari lonjakan harga energi yang terus meningkat.
Minggu lalu, komisi Eropa juga mengusulkan serangkaian langkah pertama untuk menghadapi krisis energi yang mengancam. Namun, para pemimpin Uni Eropa mendesak untuk mengambil langkah-langkah yang lebih agresif saat pertemuan puncak pada hari Jumat.
Akan tetapi, ada perpecahan di kalangan pemimpin UE mengenai tempo dukungan yang harus diberikan. Beberapa dari mereka lebih memilih pendekatan bertahap, sementara yang lain menginginkan paket langkah yang lebih besar langsung di depan. Sumber-sumber yang familiar dengan masalah ini menyampaikan informasi tersebut dengan syarat anonimitas.
Situasi ini menunjukkan betapa rapuhnya ketahanan energi Eropa saat menghadapi ketidakpastian geopolitik. Invasi dan ketegangan yang terus berlangsung tidak hanya mempengaruhi harga, tetapi juga memperburuk kondisi pasokan barang yang esensial untuk masyarakat.
Sekarang, semua mata tertuju pada langkah-langkah yang akan diambil oleh para pemimpin Eropa. Apakah akan ada inovasi dan strategi baru yang dapat mendatangkan kelegaan bagi skenario yang semakin mendesak ini? Kita tunggu saja perkembangan berikutnya.

