[MANILA] Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr pada Rabu (15 Apr) menyerukan pengaktifan dan pengujian cepat Perjanjian Keamanan Minyak Asean (APSA). Ia menyatakan bahwa ini harus dilaksanakan di tengah krisis minyak akibat konflik di Timur Tengah.
Dalam pernyataannya di konferensi online Asia Zero Emission Community (AZEC) Plus yang diselenggarakan oleh Jepang, Marcos menekankan bahwa penutupan jalur pengiriman telah menunjukkan kerentanan ekonomi Asia yang sangat bergantung pada minyak bumi impor.
Marcos menawarkan Filipina untuk menjadi tuan rumah atau co-chair dari latihan simulasi darurat APSA yang pertama. Ia menegaskan bahwa mekanisme ini sudah ada dan perlu dites sekarang juga.
Ia juga mengusulkan studi regional tentang pengumpulan stok minyak secara bersama.
Marcos menjelaskan bahwa Filipina tengah mempercepat pengembangan cadangan minyak strategis domestik, yang merupakan buffer fisik yang dikelola pemerintah untuk menyerap guncangan ketika pasar komersial mengalami kegagalan.
Dia menginginkan perusahaan bahan bakar memiliki cadangan darurat yang lebih besar, termasuk peningkatan stok wajib minyak menjadi 30 hari dari sebelumnya 15 hari dan gas minyak cair menjadi 21 hari dari tujuh hari.
Marcos menyampaikan bahwa Filipina sedang menjalankan strategi pengadaan minyak yang tergali risiko untuk mengurangi ketergantungan yang berat pada jalur suplai dan titik-titik rawan di Timur Tengah. Ini menunjukkan keinginan Filipina untuk lebih mandiri dalam sumber daya energi.
Dalam konteks geopolitik yang semakin kompleks, langkah-langkah ini bisa menjadi penting bagi negara-negara di Asia Tenggara.Dengan adanya inisiatif seperti APSA, akan ada kesempatan untuk memperkuat kerjasama regional dalam memastikan keamanan pasokan energi, yang tentunya dapat membantu stabilitas ekonomi di kawasan ini.
Pengembangan cadangan strategis dan peningkatan stok darurat oleh perusahaan bahan bakar tidak hanya mendukung kebutuhan energi domestik, tetapi juga bisa membantu menghadapi fluktuasi harga minyak yang sering kali dipengaruhi oleh situasi internasional.
Lebih lanjut, dengan adanya pendekatan baru dalam pengadaan minyak, Filipina berupaya mengurangi ketergantungan pada sumber-sumber yang rentan dan meminimalkan risiko menghadapi krisis di masa depan. Ini dapat menjadi model yang menarik bagi negara lain di kawasan Asean dalam menghadapi tantangan yang sama.
Langkah cepat dan nyata ini mencerminkan bagaimana negara-negara di Asia dapat menyikapi isu keamanan energi dengan lebih proaktif. Dengan berkolaborasi dan berbagi sumber daya, diharapkan seluruh kawasan dapat lebih resilient menghadapi guncangan pasokan yang mungkin terjadi di masa depan.
Untuk investor dan pengamat pasar, langkah-langkah seperti ini bisa menjadi indikator potensi pertumbuhan dan stabilitas dalam sektor energi Asia. Ketika Filipina berusaha menjadi lebih mandiri dalam hal sumber daya energi, berbagai peluang investasi mungkin juga akan muncul seiring dengan perkembangan tersebut.

