Selama lebih dari tujuh tahun, Ziba Murat menunggu kabar mengenai ibunya, Gulshan Abbas, seorang dokter Uyghur yang ditahan secara tidak adil oleh pemerintah Tiongkok. Telah berlalu tujuh ulang tahun dan hampir delapan tahun sejak penahanan ibunya. Baru-baru ini, Ziba juga melewati Hari Ibu yang kedelapan tanpa mendengar kabar dari Tiongkok tentang kapan ibunya yang tidak bersalah akan kembali ke keluarganya di Amerika. Setiap tahun yang berlalu, harapan untuk melihat ibunya kembali semakin sulit.
Ketika Ziba menerima undangan dari Ketua Dewan Perwakilan, Mike Johnson, untuk menghadiri pidato State of the Union tahun ini, dia merasakan optimisme. Dia percaya bahwa dengan dukungan orang-orang yang tepat, dia mungkin bisa bertemu kembali dengan ibunya.
Minggu ini, ketika Presiden Trump berada di Beijing, Ziba – seperti banyak warga Amerika lainnya yang terpisah dari orang-orang terkasih di Tiongkok – berharap bahwa kali ini, ibunya akan dibebaskan dan kembali dengan selamat ke rumahnya.
Selama seminggu terakhir, Presiden Trump menyatakan niatnya untuk membahas kasus beberapa tahanan politik yang ditahan secara tidak adil di Tiongkok dengan Xi Jinping. Di antara yang akan dibahas adalah kasus Jimmy Lai, seorang pembangkang terkenal dari Hong Kong, dan pendeta Kristen, Ezra Jin Mingri. Isyarat-isyarat seperti ini menunjukkan bahwa Washington dan Beijing berniat untuk membahas lebih dari sekadar isu perdagangan dan ekonomi saat pertemuan mereka.
Tetapi bukan hanya pernyataan Presiden yang menawarkan harapan. Hari ini, Senat dan Dewan Perwakilan Rakyat AS secara bulat mengesahkan resolusi bipartisan yang mengangkat kasus beberapa tahanan politik prioritas tinggi dan meminta pembebasan serta kepulangan mereka ke keluarga. Gulshan Abbas, Pastor Jin, Jimmy Lai, Gao Quanfu, dan Pang Yu adalah beberapa nama yang tercantum dalam resolusi tersebut. Masuknya mereka ke dalam daftar tahanan politik yang terpilih menunjukkan betapa pentingnya pemerintah AS dalam mengamankan kebebasan mereka, dan berharap, setidaknya, meningkatkan kemungkinan bahwa nama-nama mereka akan terangkat saat pembicaraan berlangsung. Pengesahan resolusi ini menunjukkan adanya keselarasan antara eksekutif dan legislatif dalam memprioritaskan pembebasan tahanan politik selama pertemuan tersebut.
Saat Presiden Trump dan Xi Jinping bersiap untuk bertemu, presiden harus menyadari bahwa AS memiliki posisi yang lebih kuat dalam negosiasi. Ekonomi Tiongkok yang sedang terpuruk berarti bahwa Tiongkok lebih membutuhkan akses ke pasar AS daripada sebaliknya.
AS seharusnya memanfaatkan kekuatan strategis ini dan meminta agar CCP – sebagai tanda niat baik – membebaskan tahanan politik bergengsi termasuk Jimmy Lai, Pastor Jin, dan Gulshan Abbas, serta lainnya yang tercantum dalam resolusi kongres. Memastikan pembebasan mereka akan menunjukkan kekuatan Amerika dan mengembalikan harapan bagi keluarga warga Amerika seperti Murat, bahwa mereka akan bisa bersatu kembali dengan anggota keluarga mereka.

