Di dunia bisnis, bahkan CEO paling sukses pun memiliki keputusan yang mereka harap bisa diambil dengan cara yang berbeda. Yang membuat seorang pemimpin hebat berbeda tidaklah terletak pada ketidakhadiran kesalahan, tetapi pada cara mereka meresponsnya.
Banyak pemimpin hebat yang menghadapi kekecewaan dengan sikap rendah hati, menggunakan pengalaman tersebut sebagai alat untuk meningkatkan pengambilan keputusan, mempertajam penilaian, dan mengasah keterampilan kepemimpinan mereka. Berikut adalah beberapa penyesalan umum yang sering dialami para pemimpin dan cara mereka belajar untuk membuat keputusan yang lebih baik.
1. Tidak Hadir Sepenuhnya
Seringkali, para CEO menyesali cara mereka membagi waktu. Saat di kantor, pikiran mereka melayang tentang apa yang harus dilakukan di rumah, dan sebaliknya. Dalam menjalani tuntutan memimpin sebuah bisnis, mereka kesulitan untuk meluangkan waktu yang cukup untuk orang-orang tercinta.
Pada akhirnya, para pemimpin belajar bahwa yang terpenting adalah kehadiran mereka, baik saat bersama teman, keluarga, atau dalam rapat bisnis. Mereka berusaha untuk lebih sadar akan waktu yang mereka miliki dan mengutamakan hal-hal yang paling berarti, baik secara profesional maupun pribadi. Menjadi sosok yang utuh memungkinkan mereka untuk tampil sebagai yang terbaik setiap hari, baik di rumah maupun di kantor.
2. Terjebak dalam Rincian Sehari-hari
Banyak CEO menyesali waktu yang dihabiskan untuk bekerja pada rincian sehari-hari daripada fokus pada strategi bisnis yang dapat membuka lebih banyak peluang pertumbuhan.
Pemimpin terbaik tahu bahwa ketika mereka terlalu terfokus pada pelaksanaan dan bukan pada delegasi, mereka kehilangan kesempatan untuk melakukan pekerjaan strategis yang hanya bisa mereka lakukan, seperti mencari peluang baru, menetapkan arah, dan mengembangkan bakat terbaik.
3. Tidak Bertindak Cukup Cepat pada Masalah Sumber Daya Manusia
Penyesalan lain yang umum terjadi di kalangan CEO adalah menunggu terlalu lama untuk bertindak terkait masalah sumber daya manusia. Meskipun sudah jelas sejak awal bahwa seorang karyawan tidak cocok, banyak pemimpin yang merasa sulit untuk mengambil tindakan.
Ini bisa mengancam operasional dan budaya organisasi. Selain itu, bisa merusak kredibilitas pemimpin yang gagal mengambil keputusan sulit. CEO yang sukses membuat keputusan personalia yang sesuai dengan budaya mereka, meskipun itu sulit.
4. Mengambil Keputusan Secara Terpisah
Ego kadang membuat CEO berpikir mereka perlu membuat keputusan sendiri. Namun, keputusan yang diambil secara terpisah hampir selalu berujung pada penyesalan. Pembuat keputusan yang paling strategis menyediakan waktu dan ruang untuk mendapatkan umpan balik, tidak hanya dari mereka yang akan setuju. Mendengarkan berbagai perspektif dari orang-orang yang akan menantang ide mereka dapat membantu CEO mengambil keputusan dengan penuh keyakinan.
Pemimpin yang bergabung dalam komunitas, baik itu kelompok penasihat sejawat atau yang lebih informal, memiliki kesempatan untuk belajar dari rekan-rekan yang pernah berada dalam posisi yang sama. Dalam lingkungan bisnis yang cepat berubah, sangat penting untuk mendapatkan umpan balik dari mereka yang berada di garis depan dengan pelanggan. Ini membantu perusahaan untuk cepat beradaptasi dengan kebutuhan pelanggan yang terus berkembang.
5. Menghindari Risiko Sepenuhnya
Penyesalan paling umum yang didengar dari para CEO adalah tentang tidak mengambil risiko. Banyak di antara mereka menyesali apa yang tidak mereka lakukan dan keputusan yang tidak mereka ambil. Daripada terjebak dalam ketakutan, CEO yang berkinerja tinggi menyadari bahwa sering kali ada lebih dari satu jawaban yang tepat.
Mereka melanjutkan setelah melakukan penilaian risiko yang disiplin: melakukan riset, memperkirakan kemungkinan kerugian, menetapkan batasan yang jelas, dan kemudian bertindak. Ketika keputusan sudah diambil, mereka sepenuhnya berkomitmen.
Dengan memiliki rasa tanggung jawab, CEO pasti akan menemukan cara untuk menjadikan keputusan tersebut sebagai langkah yang benar. Selama ada rencana cadangan yang solid, mereka tahu bahwa suatu langkah berani yang gagal biasanya kurang merugikan dibandingkan tidak mengambil langkah sama sekali. Dan jika perlu beradaptasi, mereka melihatnya sebagai kesempatan belajar yang akan membantu perusahaan beradaptasi untuk langkah besar selanjutnya.
6. Membenarkan Keputusan yang Tidak Sesuai dengan Nilai Inti
Keputusan yang mengorbankan nilai-nilai organisasi dapat erosi budaya perusahaan. Sangat mudah untuk menyelaraskan tindakan dengan nilai inti ketika bisnis berjalan baik. Namun, bahkan ketika situasinya sulit atau keadaan berubah, pemimpin yang hebat tidak akan meninggalkan nilai-nilai mereka.
Pemimpin hebat memastikan bahwa setiap keputusan sejalan dengan misi, visi, tujuan, dan nilai-nilai organisasi. Ini juga berarti memastikan semua pemimpin di tim eksekutif menyelaraskan tindakan mereka dengan strategi yang ada.
7. Menutupi Kesalahan
Bagaimana CEO bertindak setelah melakukan kesalahan sering kali lebih penting daripada kesalahannya itu sendiri. CEO yang hebat tahu bahwa mengakui keputusan dan menerima tanggung jawab menjaga kepercayaan serta memungkinkan perbaikan yang lebih cepat. Mereka bertanggung jawab dengan memproses bagaimana mereka mengambil keputusan, mengevaluasi hasil, dan menganalisis kondisi yang mengelilingi keputusan yang buruk. Setelah kesalahan terjadi, mereka lebih fokus pada perbaikan daripada justifikasi.
CEO terbaik menggunakan penyesalan untuk mempertajam penilaian dan membuat keputusan yang lebih baik di masa depan. Ini membutuhkan disiplin: meminta umpan balik yang sulit, mengakui kesalahan, dan mengubah kegagalan menjadi kesempatan belajar.
Pemimpin yang melakukan ini secara konsisten membangun keterampilan pengambilan keputusan yang lebih baik dan, pada akhirnya, kinerja kepemimpinan yang lebih baik.

