Finware
  • Beranda
  • Riwayat
  • Disimpan
  • Feed
  • Topik Pilihan
  • News
  • Market
  • Bisnis
  • Kripto
  • Tech
Notification
FinwareFinware
  • News
  • Market
  • Bisnis
  • Kripto
  • Tech
Search
  • Quick Access
    • Beranda
    • Contact Us
    • Riwayat
    • Disimpan
    • Topik Pilihan
    • Feed
  • Categories
    • News
    • Market
    • Bisnis
    • Kripto
    • Tech

Artikel Populer

Jangan lewatkan artikel menarik lainnya
Indonesia Terancam Tertinggal dalam Euforia EV, Sebagian Besar Nikel Dialihkan ke Baja Tahan Karat, Temuan Riset Mengungkap

Indonesia Terancam Tertinggal dalam Euforia EV, Sebagian Besar Nikel Dialihkan ke Baja Tahan Karat, Temuan Riset Mengungkap

Reihan
19 April 2026
Oracle Satukan Data AI untuk Berikan Agensi Perusahaan Satu Versi Kebenaran

Oracle Satukan Data AI untuk Perusahaan Agensi Single Version of Truth

Keenan
26 Maret 2026
Aksi Saham Terbesar Siang Ini: META, BBY, APP, SMG Siap Mengguncang Pasar!

Aksi Saham Terbesar Siang Ini: META, BBY, APP, SMG Siap Mengguncang Pasar!

Dirga
27 Maret 2026
© 2026 Finware Media. All Right Reserved.
Finware > Market > Rupiah Mulai Melemah di Awal November: Apa Faktor Penyebabnya?
Market

Rupiah Mulai Melemah di Awal November: Apa Faktor Penyebabnya?

Reihan
Last updated: 2 November 2026 10:44 AM
By
Reihan
3 Min Read
Share
Rupiah Mulai Melemah di Awal November: Apa Faktor Penyebabnya?
SHARE

Poin Penting

Rupiah dibuka melemah 0,02% ke level Rp 18.151 per dolar AS pada perdagangan Senin (2/11/2026).

Pelemahan rupiah terjadi seiring dengan melemahnya mayoritas mata uang Asia seperti yen, won, dan ringgit.

Pasar cermati pemilu paruh waktu AS, data ketenagakerjaan, hingga isu geopolitik minyak mentah.

JAKARTA, investortrust.id – Rupiah mengalami penurunan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada awal perdagangan Senin (2/11/2026). Nilai tukar rupiah melemah 0,02% jika dibandingkan dengan penutupan Jumat sebelumnya, mencapai posisi Rp 18.151 per dolar AS.

Tidak hanya rupiah yang melemah, beberapa mata uang di Asia pun menunjukkan tren serupa. Sebagai contoh, yen Jepang jatuh 0,23%, yuan China turun 0,02%, won Korea Selatan melemah 0,59%, ringgit Malaysia berkurang 0,25%, dan dolar Singapura juga mengalami penurunan sebesar 0,12%.

Namun, di sisi lain, ada beberapa mata uang di kawasan Asia yang berhasil menguat terhadap dolar AS. Rupee India menguat 0,32%, peso Filipina naik 0,04%, dan baht Thailand bertambah 0,05%.

Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro, menjelaskan bahwa Indeks Dolar AS (DXY) melemah 0,15% ke level 101,88 tetapi masih menunjukkan penguatan 3,62% secara year-to-date. Hal ini terjadi seiring penurunan imbal hasil obligasi US Treasury, yang turut mengurangi momentum penguatan dolar AS.

Pada pekan ini, perhatian pasar akan fokus pada pemilihan paruh waktu AS yang akan berlangsung pada 3 November, serta laporan ketenagakerjaan AS untuk bulan Oktober yang dijadwalkan dirilis pada Jumat mendatang.

Selain itu, kinerja keuangan beberapa perusahaan teknologi besar juga menjadi faktor penting yang akan mempengaruhi sentimen risiko di pasar global.

The Fed masih mempertahankan sikap hawkish dalam kebijakan moneternya setelah menahan suku bunga acuan (FFR) di level 3,75–4,00% pada bulan Oktober. Sementara itu, pasar masih memperkirakan adanya kemungkinan kenaikan suku bunga lanjutan pada bulan Desember. Pertumbuhan ekonomi AS yang positif pada kuartal III-2026 dan inflasi PCE yang masih di atas target menunjukkan bahwa pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut masih mungkin terjadi.

Read more  Southeast Asia: Menyelami Potensi Baru Sambil Mengintip Bumi dari Angkasa

Namun, menurut Andry, penurunan tajam imbal hasil US Treasury menunjukkan bahwa ada kekhawatiran di pasar terkait pengetatan kondisi keuangan dan Prospek pertumbuhan ekonomi.

Harga minyak mentah Brent melonjak 2,40% menjadi US$ 117,6 per barel pada perdagangan Jumat tapi turun sekitar 1,4% menjadi USD 111,8 per barel pada pagi ini. Penurunan ini dipicu oleh munculnya indikasi kemajuan dalam diplomasi antara AS dan Iran.

Pejabat Iran dan Qatar melanjutkan negosiasi selama akhir pekan, sementara OPEC+ tetap mempertahankan target produksi minyak untuk bulan Desember. Meski begitu, insiden yang melibatkan kapal tanker di sekitar Selat Hormuz dan risiko meningkatnya eskalasi konflik setelah pemilu paruh waktu AS akan terus menjaga premi risiko geopolitik pada level yang tinggi.

Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp LinkedIn Telegram Threads Copy Link
Avatar photo
ByReihan
Ikuti ulasan Reihan Satria untuk analisis pasar modal, pergerakan IHSG, dan sentimen bursa saham. Insight investasi dari meja redaksi Market Finware.
Previous Article Prospek Cerah Saham Bukit Asam (PTBA): Target Rp 3.480 dengan Potensi Dividen Menarik Rp 242 Prospek Cerah Saham Bukit Asam (PTBA): Target Rp 3.480 dengan Potensi Dividen Menarik Rp 242
Next Article Menghitung Agen Bukan Ukuran yang Tepat: Pertanyaan Kunci untuk Pimpinan Perusahaan Menghitung Agen Bukan Ukuran yang Tepat: Pertanyaan Kunci untuk Pimpinan Perusahaan
- Advertisement -
Ad image

Don't Miss

Indonesia Jatuhkan Denda Rp1,8 Triliun atas Manipulasi Saham Sinar Mas dan Prajogo
Indonesia Jatuhkan Denda Rp1,8 Triliun atas Manipulasi Saham Sinar Mas dan Prajogo
Market
Microsoft Berlebihan dalam Promosi Bing: Pengguna Windows 11 Kembali Mengalami Kekacauan dengan 'Fitur' Aneh di Aplikasi Bing Wallpaper
Microsoft Berlebihan dalam Promosi Bing: Pengguna Windows 11 Kembali Mengalami Kekacauan dengan ‘Fitur’ Aneh di Aplikasi Bing Wallpaper
Tech
Manusia Pertama Diberi Vaksin Virus Ciptaan AI untuk Melawan Bakteri Tahan Antibiotik, Apa Hasilnya?
Manusia Pertama Diberi Vaksin Virus Ciptaan AI untuk Melawan Bakteri Tahan Antibiotik, Apa Hasilnya?
Tech
- Advertisement -
Ad image

Baca Juga

Jelajahi insight lain yang sejalan dengan artikel ini!
Saham Assertio Melonjak setelah Naikkan Harga Merger Garda
Market

Saham Assertio Melonjak setelah Naikkan Harga Merger Garda

Reihan
4 Mei 2026
Morgan Stanley Tertekan, Apa Penyebabnya?
Market

Morgan Stanley Tertekan, Apa Penyebabnya?

Reihan
15 Juli 2026
IHSG Diprediksi Menguat, Tiga Saham Unggulan Dipimpin BBNI
Market

IHSG Diprediksi Menguat, Tiga Saham Unggulan Dipimpin BBNI

Reihan
27 Oktober 2026
Lockheed Martin Amankan Kontrak Militer AS Senilai $115 Juta
Market

Lockheed Martin Amankan Kontrak Militer AS Senilai $115 Juta

Reihan
27 Mei 2026
Von der Leyen: Konflik Iran Berpotensi Mengancam Stabilitas Eropa Dalam Jangka Panjang
Market

Von der Leyen: Konflik Iran Berpotensi Mengancam Stabilitas Eropa Dalam Jangka Panjang

Reihan
29 April 2026
Domino's Pizza Australia Pertimbangkan Langkah Hukum Pasca Putusan Gugatan Kelas
Market

Domino’s Pizza Australia Pertimbangkan Langkah Hukum Pasca Putusan Gugatan Kelas

Reihan
23 Juli 2026
Prospek Cerah Saham Bukit Asam (PTBA): Target Rp 3.480 dengan Potensi Dividen Menarik Rp 242
Market

Prospek Cerah Saham Bukit Asam (PTBA): Target Rp 3.480 dengan Potensi Dividen Menarik Rp 242

Reihan
2 November 2026
Mengapa Saham FactSet Research Melonjak Drastis Hari Ini?
Market

Mengapa Saham FactSet Research Melonjak Drastis Hari Ini?

Reihan
19 Mei 2026
Show More
- Advertisement -
Ad image
- Advertisement -
Ad image
Finware

Baca berita keuangan global real-time, insight market APAC, tren bisnis, dan crypto paling komprehensif. Curi start sebelum market bergerak.

  • Kanal:
  • Market
  • Bisnis
  • Tech
  • Kripto

Personal

  • Riwayat
  • Disimpan
  • Feed
  • Topik Pilihan

Tentang Kami

  • Beranda
  • Hubungi Kami

© 2026 Finware Media. All Right Reserved.

Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?