Seiring pengembangan AI yang terus berlanjut dan model-model yang semakin baik dari generasi ke generasi, kekhawatiran tetap ada mengenai seberapa bergunanya teknologi ini dalam praktik dan apakah AI akan mencapai batas sebelum memberikan dampak yang signifikan.
Meskipun banyak peran dan tanggung jawab yang tergantikan demi AI, apakah ini berarti bahwa segalanya berubah menjadi lebih baik?
CEO Microsoft, Satya Nadella, mengungkapkan pandangannya di World Economic Forum di Davos pada tahun 2026 tentang dampak AI terhadap ekonomi global dan dunia bisnis. Dia menyatakan, “Kita sebagai komunitas global perlu sampai pada titik di mana kita menggunakan teknologi ini untuk sesuatu yang bermanfaat. Jika tidak, rasanya semua ini tidak ada artinya. Malahan, saya rasa kita akan segera kehilangan izin sosial untuk mengambil sesuatu yang langka, seperti energi, dan menggunakannya untuk menghasilkan token-token ini.”
Nadella mengakui ada ketegangan di balik ekspansi AI yang kini menarik perhatian banyak perusahaan besar. Untuk AI terus tumbuh dengan kecepatan yang ada, tak hanya dalam hal daya komputasi yang dibutuhkan untuk melatih model, tetapi juga untuk inference seiring meningkatnya penggunaan, kita akan membutuhkan banyak pusat data untuk memproses token-token tersebut. Dan untuk menciptakan token, para pelopor AI ini memerlukan banyak energi.
Kelangkaan Energi
Nadella menjelaskan, pembakaran listrik dalam jumlah besar seperti yang direncanakan oleh perusahaan AI telah memicu kekhawatiran di kalangan publik. Terutama, banyak infrastruktur yang dibutuhkan dibangun mendekati daerah pemukiman di kota-kota.
Dia memberi tahu bahwa ada kesenjangan produktivitas antara hype di seputar AI dan dampak nyata dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Jika tidak ada sesuatu yang terlihat dari kemajuan ini, bisa jadi ketidakpuasan akan meningkat dan berubah menjadi sesuatu yang lebih mengganggu.
Seiring waktu, semakin banyak ketegangan muncul ketika masyarakat – termasuk para legislator – menentang proyek pusat data baru karena khawatir akan dampak terhadap jaringan energi, kerusakan lingkungan, dan komunitas lokal.
Ini bukan sekedar isu teknis, tetapi juga sosial. Masyarakat mulai merasa tertekan dengan kebutuhan energi yang semakin meningkat untuk mendukung perkembangan ini. Tanpa adanya pendekatan yang lebih berkelanjutan, potensi untuk terjadinya konflik sosial semakin besar.
Dalam konteks ini, penting bagi perusahaan-perusahaan teknologi untuk mempertimbangkan tanggung jawab mereka terhadap lingkungan dan masyarakat. Keseimbangan antara inovasi dan dampak sosial sangat penting untuk menjaga keberlanjutan, baik dalam bisnis maupun masyarakat.
Secara keseluruhan, perjalanan menuju masa depan dengan AI membawa tantangan signifikan. Masyarakat harus secara bersama-sama menciptakan ekosistem yang tidak hanya memprioritaskan inovasi, tetapi juga memperhatikan kebutuhan energi, keberlanjutan, dan dampak sosial. Tanpa langkah ini, masa depan kita dengan teknologi akan penuh ketidakseimbangan yang dapat merugikan banyak pihak.

