Harga batubara thermal di China sedang menunjukkan tanda-tanda pemulihan seiring dengan datangnya cuaca panas yang semakin menggigit. Awalnya, cuaca musim panas tahun ini terasa cukup sejuk, tapi sekarang dengan peningkatan suhu, permintaan untuk pendingin udara dan kebutuhan listrik mulai meningkat.
Harga spot di Qinhuangdao mencapai 822 yuan (sekitar US$821) per ton pada hari Senin, setelah mengalami penurunan sebesar 7 persen lebih awal di bulan ini, di mana harganya sempat turun hingga 797 yuan per ton pada 13 Juli, menurut China Coal Resource.
Potensi kenaikan harga terlihat jelas, terutama dengan semakin banyaknya wilayah di China yang dilanda panas ekstrem. Hal ini diungkapkan oleh China Coal Transportation and Distribution Association.
“Harga batubara thermal lebih mungkin untuk naik ketimbang turun, mengingat musim puncak konsumsi listrik dari pembangkit batubara belum berakhir. Pengaruh El Nino juga belum sepenuhnya terlihat, dan efek kumulatif dari pasokan yang semakin ketat serta permintaan yang meningkat akan terus berlanjut,” ujar Li Xuegang, analis senior di asosiasi tersebut, dalam sebuah siaran webcast pada hari Rabu.
Daerah tengah dan timur China saat ini sedang mengalami cuaca panas dan lembab yang sangat signifikan. Dua sistem tekanan tinggi bergabung membentuk kubah panas, sesuai dengan laporan dari Badan Meteorologi China.
Banyak area, mulai dari wilayah terpencil utara barat Xinjiang hingga pesisir timur yang padat penduduk, diperkirakan akan merasakan suhu tinggi hingga 37 derajat Celsius dalam beberapa hari ke depan. Ini juga termasuk kota-kota besar seperti Beijing dan Shenyang, yang diprediksi akan merasakan suhu yang sangat tinggi hingga akhir pekan mendatang, kata Paul Markert, seorang meteorolog dari penyedia ramalan cuaca komersial, Vaisala.
Musim panas ini sebelumnya, harga batubara sempat merosot karena perusahaan utilitas meningkatkan stok dengan harapan bahwa El Nino akan menghadirkan cuaca panas dan meningkatkan permintaan pendingin udara. Sebaliknya, sebagian besar negara justru mengalami hujan yang lebat dan berkepanjangan, yang menurunkan suhu dan membantu peningkatan pembangkit listrik tenaga air, sehingga permintaan batubara pun ikut menurun.
Produksi listrik dari sumber hidro diperkirakan akan melemah dalam beberapa bulan ke depan, setelah meningkat 9,3 persen selama paruh pertama tahun ini dibandingkan tahun lalu. Asosiasi batubara juga memperkirakan produksi dari energi angin dan matahari akan lemah selama musim panas ini.
Walaupun stok batubara di China masih tinggi, produksi domestik mengalami kendala setelah kecelakaan fatal yang terjadi di Shanxi pada akhir Mei membuat pemerintah mengadakan pemeriksaan keselamatan yang ketat, sehingga mengganggu produksi di salah satu daerah penambangan teratas di negara itu. Produksi di provinsi tersebut terjatuh hingga 32 persen pada bulan Juni.

