Laporan Ransomware Era AI 2026 dari Proofpoint menemukan bahwa 54% korban membayar penyerang meskipun sudah ada peringatan
37% menghadapi pemerasan ulang setelah membayar; 2% membayar tetapi tidak pernah mendapatkan kembali akses ke file
Para ahli mendesak pencegahan: kesadaran terhadap phishing, backup offline, dan perlindungan endpoint berbasis AI
Riset keamanan dari Proofpoint kembali mengungkap bahwa membayar penjahat ransomware tidak menjamin mereka akan pergi selamanya. Faktanya, hasil penelitian menunjukkan bahwa banyak penyerang kembali lagi karena mereka tahu dapat mendapatkan uang dari korban.
Laporan “2026 AI-Era Ransomware” yang dilakukan melalui survei kepada hampir 1.000 profesional keamanan di 12 pasar global menemukan bahwa lebih dari separuh (54%) organisasi yang terpengaruh memutuskan membayar penyerang untuk mendapatkan akses lagi ke file yang terkunci dan mencegah mereka membagikan dokumen yang dicuri di dark web.
Hal ini terjadi meskipun terdapat banyak seruan dari pihak kepolisian dan industri keamanan siber untuk tidak berinteraksi dengan penyerang, bahkan tidak membayar tebusan dalam kondisi apapun. Menurut Proofpoint, tekanan dari dunia nyata yang dihadapi organisasi ketika dihadapkan pada gangguan sering kali terlalu besar untuk ditoleransi.
Meminta pembayaran kedua
Logika di balik argumen “jangan bayar” ini cukup sederhana. Dengan membayar, korban justru memotivasi penyerang untuk melakukan lebih banyak kerusakan dan mendanai serangan di masa depan. Selain itu, tak ada jaminan bahwa kunci dekripsi akan berfungsi, bahwa penyerang akan benar-benar menghapus file yang dicuri, dan bahwa mereka tidak akan menyerang lagi dalam beberapa minggu ke depan.
Argumen terakhir ini kini telah terbukti. Sekitar setengah (56%) korban yang membayar satu kali berhasil mendapatkan akses kembali, tetapi lebih dari sepertiga (37%) masih menghadapi permintaan pemerasan kedua setelah membayar. Sementara itu, 2% lainnya membayar tetapi tidak pernah mendapatkan akses kembali sama sekali.
Daripada membayar permintaan tebusan, industri menyarankan agar bisnis melindungi diri dengan mendidik karyawan tentang bahaya phishing, menyimpan backup yang diperbarui di tempat offline, dan menjalankan layanan deteksi serta perlindungan endpoint (terutama yang berbasis AI) di seluruh infrastruktur teknologi mereka.

