Astronot yang berada di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) sangat bergantung pada dokter di Bumi ketika masalah medis muncul ratusan kilometer di atas kepala mereka.
Konsep ini cukup efektif di orbit Bumi rendah, di mana waktu komunikasi masih cukup singkat untuk konsultasi secara real-time. Namun, tantangan akan muncul saat kru melakukan perjalanan lebih jauh dari orbit Bumi, di mana sinyal dapat memakan waktu beberapa menit untuk sampai, bukan hanya beberapa detik.
Dokter AI yang Bisa Beroperasi Tanpa Koneksi Internet
Tim peneliti di Johnson Space Center milik NASA di Houston kini sedang uji coba sebuah sistem bantuan keputusan klinis bernama Crew Medical Officer Digital Assistant (CMO-DA). Sistem ini dirancang untuk membantu astronot dalam mendiagnosis dan mengobati kondisi medis selama misi ke luar angkasa, di mana komunikasi real-time dengan dokter di Bumi bisa sangat terbatas atau bahkan tidak mungkin.
Sistem ini didukung oleh RamaLama, sebuah alat open-source dari Red Hat yang dirancang untuk menyederhanakan cara pengembang menjalankan dan mengelola model AI di berbagai lingkungan perangkat keras. Menurut Red Hat, RamaLama memperlakukan model AI seperti gambar kontainer, yang dijalankan di lingkungan terisolasi dengan mengutamakan keamanan, menggunakan kontainer yang sesuai dengan Open Container Initiative dan mudah dipindahkan serta diprediksi di berbagai perangkat keras.
Dengan pendekatan ini, CMO-DA dapat melakukan apa yang dikenal dengan inferensi multimodal, yaitu memproses model bahasa besar untuk alasan medis yang kompleks, serta Model Bahasa Visual untuk analisis gejala berbasis gambar. Sistem ini dapat mengevaluasi deskripsi gejala yang ditulis dan data visual tanpa memerlukan koneksi ke server cloud di Bumi.
Keberadaan kemampuan offline ini bukan sekadar fitur tambahan, melainkan kebutuhan yang sangat kritis. Mengingat adanya keterlambatan komunikasi di luar angkasa, ketergantungan pada cloud bisa menjadi ancaman serius bagi kesehatan kru.
Saat ini, pengujian sedang dilakukan pada perangkat keras HPE yang merupakan kembaran dari Spaceborne Computer yang sudah ada di ISS. Hal ini memberikan peneliti replika yang dapat diandalkan dari lingkungan penerapan yang sebenarnya.
Dengan menggunakan alat open-source, para peneliti NASA telah membangun sistem yang reproducible dan dapat diaudit, yang dianggap sangat penting untuk keselamatan manusia di lingkungan misi yang kritis.
Dari Uji Coba di Bumi ke ISS dan Luar Angkasa
Setelah fase pengujian di Bumi selesai, CMO-DA akan dipresentasikan kepada para pemimpin NASA untuk evaluasi proses penerapan lebih lanjut di International Space Station.
Iterasi berikutnya dari sistem ini akan mengintegrasikan Red Hat Enterprise Linux AI, yang dikenal sebagai RHEL AI. Ini dimaksudkan untuk memberikan fondasi yang stabil dan tahan banting dalam mengelola aplikasi AI yang tercontainerisasi di lingkungan yang terpencil dan ekstrem.
RamaLama sendiri dibuat dengan tujuan untuk membuat AI terasa “membosankan”, yang berarti dapat diandalkan, terprediksi, dan tidak glamor dalam pengertian terbaik untuk aplikasi kritis misi. Arsitektur yang sedang diuji untuk kesehatan astronot ini nantinya bisa menghasilkan cetak biru untuk memberikan dukungan medis di daerah paling terpencil di Bumi.
Masih menjadi tanda tanya apakah CMO-DA akan berkembang menjadi sesuatu yang mirip dengan Tricorder genggam dari Star Trek. Namun yang pasti, alat AI open-source ini sudah mulai mendiagnosis gejala-gejala di atas replika perangkat keras yang saat ini sedang mengorbit Bumi.

