NATO dan Ukraina baru saja meluncurkan kompetisi dengan anggaran sebesar €250.000 (sekitar $287.000) untuk mencari teknologi yang bisa mencegah lawan menggunakan lapangan udara dalam jangka waktu yang lebih lama.
Inisiatif ini, dikenal dengan nama Persistent Airfield Denial, bertujuan untuk mengganggu infrastruktur penerbangan yang mendukung operasi militer terhadap Ukraina.
Penyelenggara mencari solusi praktis yang dapat merusak pesawat, landasan pacu, fasilitas bahan bakar, tempat penyimpanan amunisi, serta infrastruktur pendukung lainnya.
Pencarian teknologi untuk gangguan jangka panjang pada lapangan udara
Kompetisi ini diselenggarakan oleh NATO Allied Command Transformation bekerja sama dengan NATO-Ukraine Joint Analysis, Training and Education Centre, yang lebih dikenal dengan sebutan JATEC.
Menurut Kementerian Pertahanan Ukraina, upaya ini berawal dari pentingnya lapangan udara dalam mendukung operasi udara Rusia terhadap wilayah Ukraina. Kementerian tersebut menjelaskan, “Setiap penerbangan udara Rusia untuk menyerang Ukraina dimulai dari lapangan udara,” yang menjadi alasan pencarian fokus pada membatasi akses ke infrastruktur penerbangan.
Pejabat terkait menginginkan konsep yang mampu memberikan tekanan operasional yang berkelanjutan terhadap lapangan udara musuh, bukan hanya melakukan serangan dalam durasi singkat.
Sistem yang diusulkan dapat mengandalkan drone, munisi yang melayang, teknologi swarm, atau metode alternatif untuk mengirimkan muatan destruktif ke jarak jauh.
Syarat kompetisi ini mengizinkan hampir semua arsitektur teknologi asal solusi yang diusulkan dapat mencapai hasil operasional yang diinginkan.
Peserta juga harus menunjukkan efektivitas dalam kondisi perang elektronik di mana komunikasi mungkin terganggu atau bahkan tidak ada selama misi.
Solusi diharapkan tetap berfungsi tanpa kontrol operator langsung atau akses ke layanan navigasi satelit dalam kondisi medan perang yang menantang.
Penyelenggara juga mengharuskan sistem dapat beroperasi sepanjang tahun dan dalam berbagai kondisi cuaca tanpa penurunan kinerja yang signifikan.
Inisiatif ini mengikuti tantangan inovasi yang didukung NATO sebelumnya untuk merespons ancaman bom pandu dan drone serat optik yang semakin banyak digunakan dalam pertempuran.
Persyaratan prototipe dan penekanan pada penggelaran cepat
Penyelenggara membutuhkan teknologi yang bisa dengan cepat berpindah dari tahap pengembangan ke penggelaran operasional setelah pengujian berhasil. Level Kesiapan Teknologi yang diinginkan berkisar antara 5 dan 7, menunjukkan kemampuan tahap prototipe dibandingkan dengan konsep yang hanya bersifat teoritis.
Peserta diharapkan memberikan versi fungsional awal dalam waktu enam minggu, menunjukkan kemajuan praktis menuju tujuan penggelaran.
Batas waktu pengajuan proposal tetap terbuka hingga 20 Juli 2026, sementara finalis yang terpilih akan diumumkan pada 11 Agustus.
Perusahaan miltech Ukraina, startup, tim teknik, dan pengembang pertahanan didorong untuk mengajukan teknologi kandidat untuk dievaluasi.
Bagian besar dari konsep yang mungkin muncul bisa melibatkan sistem otonom yang dirancang untuk berfungsi secara mandiri saat komunikasi menjadi tidak tersedia.
Pengembang juga dapat memanfaatkan alat AI untuk meningkatkan navigasi, koordinasi, dan pengambilan keputusan selama operasi yang terkontestasi.
Tahun lalu, Layanan Keamanan Ukraina melaksanakan Operasi Spiderweb, serangan drone terkoordinasi terhadap lima lapangan udara Rusia. Kyiv mengklaim operasi tersebut menghancurkan atau merusak 41 pesawat dan menyebabkan kerugian sekitar $7 miliar, meski Rusia menyebut kehilangan 11 pesawat dan sekitar $26 juta.
Meski Ukraina sudah mengoperasikan drone murah seperti Hornet dan UAV yang dimodifikasi dengan dukungan AI yang mampu menjangkau target hingga ratusan kilometer, mereka kini mencari teknologi tipe ‘Spiderweb’ yang mampu memberikan efek yang sama atau lebih besar.
Menurut Defense Express.

