Hakim yang menghukum mantan Perdana Menteri Malaysia, Najib Razak, atas skandal 1MDB mengemukakan bahwa perampokan terhadap dana kekayaan negara itu begitu besar hingga melampaui pencapaian Attila si Hun, salah satu penakluk paling terkenal dalam sejarah.
“Skala perampokan yang terjadi (secara finansial, tentu saja) membuat Attila si Hun terlihat seperti anak paduan suara dibandingkan,” kata Collin Lawrence Sequerah dalam pendahuluan 809 halaman putusannya.
Putusan tertulis tersebut dikeluarkan pada hari Selasa (16 Juni), hampir enam bulan setelah Sequerah menemukan Najib bersalah atas semua tuduhan dalam persidangan 1MDB yang sudah berjalan lama dan menjatuhkan hukuman 15 tahun penjara kepadanya.
Mantan perdana menteri, yang memimpin Malaysia dari 2009 hingga 2018, sudah mendekam di penjara sejak 2022 setelah divonis dalam kasus terpisah yang terkait dengan dana yang secara resmi dikenal sebagai 1Malaysia Development Bhd.
Dana 1MDB ini didirikan pada tahun pertama Najib menjabat dan segera menjadi pusat dari skandal korupsi global setelah miliaran dolar diduga disedot dari dana tersebut, memicu penyelidikan di berbagai yurisdiksi.
Perdana Menteri Anwar Ibrahim mengungkapkan bahwa pemerintahannya mewarisi utang terkait 1MDB sekitar RM50 miliar (S$15,8 miliar) setelah pemerintahan Najib dicopot pada tahun 2018.
“Di jantung skandal ini bukanlah karyawan sederhana yang melihat kesempatan untuk mengeksploitasi celah dalam sistem, tetapi seorang pria terhormat yang memegang kekuasaan tertinggi,” tulis Sequerah.
Persidangan 1MDB yang dihadapi Najib berlangsung lebih dari tujuh tahun sejak ia pertama kali didakwa. “Ini mungkin telah melampaui durasi persidangan lainnya dalam sejarah pengadilan Malaysia,” jelas Sequerah.
Skandal 1MDB ini memang menjadi salah satu contoh besar di mana penyalahgunaan kekuasaan berujung pada konsekuensi yang sangat berat, baik untuk individu maupun negara. Keterlibatan Najib membuat banyak orang tergerak untuk lebih peka terhadap isu-isu tata kelola keuangan dan transparansi di pemerintahan.
Inilah saatnya bagi para investor, pelaku pasar, dan masyarakat luas untuk belajar dari kasus ini. Pastikan untuk tidak terjebak dalam situasi yang menguntungkan tetapi berisiko tinggi. Keberanian dalam berinvestasi itu penting, tetapi harus dibarengi dengan prinsip yang baik dan pengawasan yang ketat.
Semoga dengan berjalannya waktu, kepercayaan publik terhadap lembaga keuangan dan pemerintahan bisa kembali terbangun serta praktik-praktik korupsi seperti ini bisa diminimalisir. Negara sehat akan menciptakan iklim investasi yang baik dan segar bagi semua pihak.

