Di ajang Computex 2026, Qualcomm memberikan kabar menarik bagi para penggemar teknologi. Saat banyak yang penasaran tentang bagaimana perusahaan ini akan merespons pengumuman Nvidia mengenai chip RTX Spark yang dikhususkan untuk laptop dan desktop Windows 11, Qualcomm menjawabnya dengan optimisme.
Kedar Kondap, SVP dan GM untuk Compute dan Gaming di Qualcomm, menyatakan dengan tegas, “Selamat datang di keluarga.” Daripada melihat chip Arm terbaru dari Nvidia sebagai ancaman, Qualcomm justru melihatnya sebagai peluang untuk meningkatkan adopsi Windows di platform Arm. Ini adalah pandangan yang segar dan optimis di tengah persaingan yang semakin ketat.
“Kami mempercepat ekosistem,” lanjut Kondap, menunjukkan bagaimana Qualcomm telah bekerja sama dengan pengembang game dan aplikasi untuk meningkatkan jumlah perangkat lunak yang bisa berjalan secara native di hardware Arm, serta arsitektur x86 yang lebih tradisional. Ini adalah poin penting, karena jika RTX Spark sukses, banyak aplikasi dan game bisa dipindahkan untuk bekerja di Arm tanpa perlu emulator, yang jelas akan menguntungkan laptop dengan hardware Snapdragon milik Qualcomm.
Qualcomm tampaknya tidak terpengaruh dengan kerjasama erat antara Nvidia dan Microsoft terkait RTX Spark. Misalnya, CEO Nvidia, Jensen Huang, akan muncul di panggung konferensi Build Microsoft untuk membahas lebih lanjut soal chip ini, dan Microsoft juga berencana meluncurkan salah satu laptop pertama yang menggunakan RTX Spark, Surface Ultra, tahun ini. Kondap juga mengingatkan, “Kami meluncurkan PC Copilot+ pertama bersama Microsoft,” memperkuat bahwa kolaborasi antara keduanya sudah terjalin lama.
Meski banyak hype mengenai RTX Spark, ada sejumlah pertanyaan yang belum terjawab, terutama soal harga laptop berteknologi RTX Spark. Melihat desain dan spesifikasinya, sepertinya laptop-laptop ini akan menjadi perangkat premium dengan harga yang selaras.
Harga yang Sesuai
Tentu ini adalah langkah berani, apalagi di kondisi pasar sekarang di mana biaya hidup terus meningkat, membuat konsumen lebih berhati-hati dalam berbelanja. Dalam konteks ini, Qualcomm punya kartu as di tangan mereka dengan chip Arm terbaru, Snapdragon C, yang didesain untuk laptop yang lebih terjangkau—sekitar $500 dan di bawahnya. Meskipun Snapdragon C tidak akan sekuat chip Snapdragon Elite di lini atas, Qualcomm menjamin bahwa Snapdragon C akan terjangkau tanpa banyak mengorbankan performa atau fitur, terutama dalam hal AI on-device.
“Para OEM sangat bersemangat untuk menghadirkan Snapdragon C ke pasar, begitu pun Qualcomm. Kami ingin produk yang dapat menghadirkan kisaran harga yang belum bisa kami capai sebelumnya,” ujar Kondap. Laptop Windows di platform Arm yang lebih terjangkau adalah apa yang kita butuhkan sekarang, dan Qualcomm siap menyediakan itu, bukan Nvidia.
- Ikuti pusat berita Computex 2026 kami untuk semua berita terbaru dari Taipei.

