Investor global semakin kehilangan kepercayaan terhadap Indonesia. Kekhawatiran ini muncul akibat agenda populis dan intervensi yang semakin intensif dari Presiden Prabowo Subianto. Dalam minggu ini, saham Indonesia mengalami penurunan tercepat di seluruh dunia, dan nilai tukar rupiah jatuh ke level terendahnya. Hal ini jelas memicu kekhawatiran di kalangan investor.
Pejabat keuangan dan bank sentral Indonesia menegaskan bahwa mereka akan memperkuat upaya untuk menstabilkan mata uang dan menarik arus masuk modal. Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyampaikan hal ini dalam konferensi pers di Parlemen, menyatakan bahwa pihaknya akan menjaga likuiditas yang cukup di pasar dan bekerja sama untuk meningkatkan imbal hasil serta menarik lebih banyak investasi.
Para pejabat juga menekankan pentingnya keberlanjutan kebijakan fiskal yang sehat. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan bahwa pemerintah akan terus menyelaraskan kebijakan dengan bank sentral untuk mendorong pertumbuhan, menjaga stabilitas, dan daya beli masyarakat. Ini dikatakan dalam konteks situasi global yang semakin sulit, di mana kebijakan domestik juga diperkenalkan dengan cepat.
Sejak mencapai titik tertinggi hanya lima bulan lalu, indeks saham acuan Indonesia telah anjlok hampir 39 persen, menjadikannya sebagai pengeluaran terburuk di antara lebih dari 90 indeks global yang dipantau oleh Bloomberg. Selain itu, rupiah telah melemah sekitar 8 persen, sementara investor asing menarik miliaran dolar dari obligasi Indonesia. Penjualan ini juga memunculkan kekhawatiran baru tentang profil kredit sovereign Indonesia, yang sebelumnya mendapatkan rating investment-grade dari lembaga besar antara tahun 2012 hingga 2017.
Kekhawatiran tentang pengelolaan ekonomi pemerintah semakin meningkat, terutama menyusul kebingungan mengenai regulasi baru terkait ekspor komoditas dan penyelidikan korupsi yang melibatkan program makanan gratis senilai US$15 miliar yang menjadi bendera Prabowo.
Perry Warjiyo menambah, jika imbal hasil bagi pemerintah dinaikkan, beban bunga neto pemerintah akan lebih mudah dikelola. Rencana ini juga diharapkan bisa mengatasi kekhawatiran beberapa lembaga pemeringkat terkait meningkatnya pembayaran bunga pemerintah. Diskusi sebelumnya antara pejabat seperti Purbaya dan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dengan perwakilan dari S&P Global Ratings di Jakarta juga menunjukkan perhatian pemerintah terhadap situasi ini.
Bank Indonesia berencana meningkatkan imbal hasil yang dibayarkan atas setoran pemerintah, menciptakan koordinasi antara otoritas moneter dan fiskal. Ini merupakan langkah yang diharapkan dapat menurunkan biaya pinjaman pemerintah, karena akan memungkinkan pemerintah untuk mendapatkan imbal hasil yang lebih tinggi dari dana yang ditempatkan di bank sentral.
Saat ini, pemerintah memiliki sekitar 300 triliun rupiah yang ditempatkan di bank-bank milik negara, dengan sebagian dana tersebut dimaksudkan untuk mendukung pertumbuhan pinjaman dan sisanya digunakan untuk pembelian obligasi pemerintah, agar tetap ada permintaan terhadap utang negara. Namun, harga minyak yang terus merangkak naik akibat konflik di Timur Tengah semakin menambah tekanan pada ekonomi Indonesia, memaksa pemerintah mengeluarkan lebih banyak uang untuk subsidi bahan bakar.
Dalam wawancara di Bloomberg TV, Grace Tam, wakil kepala investasi BNP Paribas Wealth Management Asia, mengungkapkan, saat ini tidak ada katalis positif yang terlihat, terutama dalam waktu dekat. Pasar sangat berharap akan adanya kebijakan yang lebih kuat dan ramah pasar untuk membalikkan kondisi ini. Untuk saat ini, tingkat kepercayaan investor bisa dibilang cukup rendah.

