Bank swasta kini melakukan penundaan terhadap berbagai acara di China dan membatasi perjalanan staf, menyusul tindakan tegas yang belum pernah terjadi sebelumnya dari regulator untuk mengawasi arus investasi lintas batas. Situasi ini terjadi seiring peningkatan pengawasan dari pihak berwenang di Beijing dan Hong Kong.
Misalnya, acara proyeksi kekayaan UBS Group yang direncanakan berlangsung bulan ini di daratan China terpaksa ditunda, meski beberapa acara lainnya tetap dilanjutkan. Sumber yang mengetahui hal ini mengungkapkan bahwa HSBC Holdings tetap melanjutkan acara yang diadakan di China, tetapi memberikan larangan dalam perjalanan yang tidak penting bagi banker swasta yang berbasis di Hong Kong. Beberapa yang berencana hadir terpaksa membatalkan perjalanan mereka, kata salah satu sumber tanpa menyebut identitasnya.
Sementara itu, Standard Chartered juga menginformasikan bahwa mereka sedang meninjau kebijakan yang ada.
Bank-bank sedang mengevaluasi kembali strategi mereka di daratan setelah Beijing meluncurkan kampanye paling agresif untuk menghentikan perdagangan lintas batas tanpa izin, guna mencegah arus modal keluar. Menurut data dari Institute of International Finance, aliran keluar penduduk China mencapai angka yang diperkirakan sebesar US$807 miliar tahun lalu, dipicu oleh prospek ekonomi domestik yang melemah serta keinginan untuk diversifikasi aset global.
Beijing melakukan langkah-langkah signifikan untuk meningkatkan tekanan dalam hal ini. Misalnya, ada instruksi untuk broker online agar menghentikan penerimaan investor baru di daratan serta melarang pembelian produk asuransi di Hong Kong menggunakan kartu kredit dan debit dari China. Selain itu, pihak berwenang pajak China juga semakin giat mengumpulkan pajak atas pendapatan yang berasal dari luar negeri.
Seorang juru bicara HSBC menyatakan, “Kami berharap dapat menyelenggarakan acara proyeksi investasi dua tahunan kami minggu depan untuk klien di China dan rencana perjalanan terkait akan berjalan seperti biasa.” UBS menolak untuk memberikan komentar lebih lanjut.
Komisi Pengawas Sekuritas China baru-baru ini menjatuhkan denda lebih dari US$330 juta kepada tiga broker online besar yang menyediakan layanan perdagangan offshore kepada klien dari daratan tanpa izin yang tepat. Regulator juga memerintahkan agar semua rekening ritel yang tidak sesuai dengan ketentuan dilikuidasi dalam jangka waktu dua tahun.
Di Hong Kong, regulator lokal juga memperketat pengawasan dengan instruksi kepada bank-bank setempat agar memastikan semua klien baru menandatangani deklarasi eksplisit yang mengonfirmasi bahwa dana dalam akun investasi mereka berasal dari luar China daratan. Langkah ini sudah mempengaruhi bisnis baru, karena perusahaan khawatir bahwa regulator mungkin meminta bukti konkret mengenai asal usul aset asing meski klien telah menandatangani deklarasi.
Manus Costello, wakil direktur keuangan sementara Standard Chartered, mengungkapkan dalam konferensi Goldman Sachs di Zurich bahwa 30 persen dari uang baru bersih yang dihasilkan bank berasal dari “klien global China” yang sudah memiliki dana di luar negeri.
Dia menekankan pentingnya untuk meninjau kebijakan dan prosedur yang ada agar tetap patuh dengan ketentuan yang berlaku.
Penduduk daratan sudah lama menggunakan sistem keuangan Hong Kong untuk menghindari kontrol modal ketat dari Beijing, yang secara hukum membatasi pembelian mata uang asing tahunan hingga US$50.000 per orang. Aliran kekayaan dari daratan ini selama bertahun-tahun menjadi sumber pendapatan yang sangat menguntungkan bagi lender terbesar, manajer aset, dan perusahaan asuransi di kota ini.
Perjalanan banker swasta ke daratan selalu berada dalam area abu-abu dari segi regulasi, di mana terdapat batasan ketat untuk compliance. Manajer hubungan yang berkunjung ke daratan secara hukum dilarang menawarkan bisnis atau mendiskusikan produk investasi tertentu, meskipun mereka diizinkan untuk melakukan pertemuan umum untuk membangun hubungan dengan klien.
Beberapa lender besar yang didukung negara China yang beroperasi di Hong Kong diam-diam menghentikan pembukaan akun manajemen kekayaan offshore baru untuk penduduk daratan. Di saat yang sama, perusahaan internasional dengan cepat meningkatkan ketelitian dalam meninjau portofolio tabungan dan investasi yang ada.
Tindakan keras ini telah memengaruhi saham perusahaan keuangan. Up Fintech Holding, pemilik Tiger Brokers, mengalami penurunan sebesar 25 persen di New York ketika pengumuman ini dirilis pada 22 Mei, meski kemudian sedikit membaik. Futu Holdings yang juga terkena denda turun 23 persen sejak pengumuman tersebut.
Kerugian ini merambah ke beberapa raksasa keuangan di Hong Kong setelah muncul laporan bahwa cabang Bank of East Asia di Shanghai telah menangguhkan pembukaan akun bank di Hong Kong untuk klien dari daratan.
Standard Chartered turun hingga 7,6 persen pada hari Kamis di London, sementara HSBC mengalami penurunan hampir 6 persen sebelum memangkas kerugian. AIA Group, yang diuntungkan dari pembelian asuransi lintas batas, jatuh 6,9 persen di Hong Kong, mencapai level terendah dalam enam bulan.

