Perang di Timur Tengah dan pemblokiran Selat Hormuz memberikan peringatan strategis tentang betapa mudahnya titik-titik rawan geopolitik bisa mempengaruhi penerbangan, mengerek tarif, dan menimbulkan gesekan ekonomi di seluruh benua.
Ketika Selat Hormuz ditutup, dampak stres terlihat dengan cepat dalam pengambilan keputusan maskapai. Sekitar satu per lima dari total perdagangan minyak dunia biasanya melintasi koridor sempit ini, dan gangguan langsung memberi efek gelombang pada produk minyak mentah dan olahan, termasuk bahan bakar jet.
Indeks harga bahan bakar jet yang dirilis oleh Asosiasi Transportasi Udara Internasional menunjukkan lonjakan harga mendekati US$200 per barel, lebih dari dua kali lipat dibandingkan level awal tahun 2026. Hal ini membuat maskapai terpaksa menaikkan tarif dan mengurangi kapasitas penerbangan.

