[WASHINGTON] Jumlah mahasiswa internasional baru di perguruan tinggi AS mengalami penurunan rata-rata sebesar 20 persen pada musim semi ini dibandingkan tahun lalu, menurut sebuah studi yang dilakukan oleh koalisi kelompok pendidikan. Ini jadi tanda terbaru bahwa ketegangan antara Pemerintah Trump dan sektor pendidikan tinggi berdampak pada sumber bakat dan dana yang sangat penting.
Temuan ini diterbitkan dalam laporan pada hari Senin (11 Mei) oleh organisasi-organisasi termasuk kelompok pendidikan internasional AS, Nafsa, yang berdasarkan survei pada 149 sekolah di Amerika. Sekitar 62 persen dari sekolah-sekolah tersebut melaporkan turunnya pendaftaran mahasiswa asing di program sarjana dan pascasarjana dibandingkan dengan musim semi 2025.
Mahasiswa internasional, yang seringkali membayar biaya kuliah penuh, menjadi sumber pendapatan utama bagi universitas, terutama mengingat penurunan jumlah mahasiswa domestik. Pemerintahan Trump telah menerapkan kebijakan ketat terhadap pendaftaran mahasiswa asing sebagai bagian dari kampanye besar untuk merombak pendidikan tinggi dan membatasi jalur imigrasi.
Walaupun jumlah mahasiswa yang memulai kuliah di musim semi cenderung lebih sedikit, tren pendaftaran pada semester ini adalah indikator untuk kelompok mahasiswa yang lebih besar di musim gugur. Jika pendaftaran internasional jatuh dekat dengan 20 persen di musim gugur, beberapa universitas mungkin menghadapi kekurangan anggaran yang serius.
Titik balik bagi sekolah-sekolah di AS terjadi musim semi lalu, ketika agen Imigrasi dan Bea Cukai menangkap dan menahan puluhan mahasiswa asing, kadang-kadang di kampus atau di asrama mereka, dan mencabut status residensi legal ribuan orang. Sebagian besar dari mereka mendapatkan kembali status mereka setelah pemerintah kalah dalam serangkaian tantangan hukum, namun penindasan itu memberikan dampak jangka panjang.
Sementara pendaftaran internasional secara keseluruhan di AS turun 1,4 persen pada musim gugur lalu dibandingkan tahun sebelumnya, sebagian besar mahasiswa yang masuk kuliah saat itu sudah memulai proses pendaftaran sebelum Gedung Putih meningkatkan kampanyenya untuk membatasi pendaftaran asing. Baru pada bulan Maret, agen ICE mulai menargetkan mahasiswa, dan pada bulan Mei, Departemen Luar Negeri menghentikan wawancara visa pelajar pada saat puncak untuk pemrosesan guna menerapkan kebijakan peninjauan baru yang ketat pada bulan Juni.
Menurut survei tersebut, 84 persen sekolah di AS mengindikasikan “kebijakan pemerintah yang ketat” sebagai alasan utama penurunan tersebut, dan lebih dari sepertiga mengatakan bahwa penurunan ini kemungkinan akan berdampak pada pemotongan anggaran. Musim panas lalu, penerbitan visa pelajar turun sebanyak 36 persen.
Survei Nafsa yang dilakukan bekerja sama dengan kelompok pendidikan internasional lainnya mengumpulkan tanggapan dari ratusan perguruan tinggi di seluruh dunia, termasuk Kanada, Australia, dan Inggris, yang juga menjadi tujuan utama bagi mahasiswa internasional. Negara-negara itu, yang juga mengutip kebijakan imigrasi yang ketat, melaporkan penurunan pendaftaran internasional pada musim semi ini. Akan tetapi, perguruan tinggi di Eropa dan Asia melaporkan peningkatan pendaftaran internasional.

