Shiba Inu (SHIB), salah satu memecoin terbesar di pasar, masih jauh dari masa kejayaannya. Token ini saat ini diperdagangkan lebih dari 90% di bawah puncak tertinggi yang dicapai pada Oktober 2021.
Meski ada kenaikan sekitar 5% selama pergerakan harga di bulan April, pemulihan ini terlihat terbatas, terutama saat para investor mempertimbangkan faktor-faktor jangka panjang yang bisa mempengaruhi nasib token ini.
No Fast Scarcity, Bigger Downside
Menurut laporan terbaru dari Motley Fool, ada beberapa faktor struktural yang telah membentuk kinerja Shiba Inu saat ini dan bisa terus mempengaruhi arah geraknya ke depan.
Salah satu masalah terbesar adalah pasokan token ini. Total pasokan SHIB mencapai sekitar 589,5 triliun token, dengan hampir semua pasokan tersebut sudah beredar di pasar. Sementara sebagian besar pasokan telah dihapus dari sirkulasi pada tahun 2021, jumlah yang tersisa masih sangat besar sehingga tidak mengubah gambaran keseluruhannya.
Laporan tersebut menekankan bahwa skala pasokan ini membuatnya sulit untuk mengencangkan Shiba Inu sedemikian rupa sehingga bisa berdampak signifikan pada harga.
Untuk menggambarkan betapa sulitnya mengurangi pasokan secara bermakna, laporan tersebut mencatat bahwa meskipun 1 triliun token dihapus secara permanen setiap hari selama satu tahun penuh, ratusan triliun masih akan tersisa. Dalam praktiknya, ini berarti bahwa kelangkaan yang dipicu oleh pasokan tidak mungkin terjadi dengan cukup cepat untuk menciptakan lonjakan harga yang signifikan.
Pada saat yang sama, laporan ini menyoroti kelemahan utama yang bekerja ke arah yang berlawanan: tidak ada mekanisme bawaan yang mengurangi pasokan dengan cepat saat permintaan melemah.
Near-Zero Warning For Shiba Inu
Laporan ini juga memperingatkan risiko penurunan yang lambat dan berkelanjutan. Dikatakan bahwa saat perhatian investor beralih dan modal berputar menuju cryptocurrency lain seperti Bitcoin (BTC) dan Ethereum (ETH), kombinasi pasokan besar dan kelangkaan terbatas dari SHIB bisa membuatnya rentan terhadap tekanan penurunan yang berkelanjutan.
Dalam skenario ini, laporan itu menyebutkan bahwa Shiba Inu bisa saja berakhir mendekati level nol pada akhir tahun 2026, bukan sebagai keruntuhan tiba-tiba, melainkan akibat dari kelemahan yang berkepanjangan.
Selain mekanisme pasokan, laporan ini juga menyoroti kepemilikan dan distribusi SHIB. Dikatakan bahwa pasokan token ini terkonsentrasi di antara sejumlah kecil dompet. Menurut laporan tersebut, 10 dompet teratas menguasai lebih dari 60% total pasokan SHIB.
Ini penting karena harga SHIB, menurut laporan ini, sangat dipengaruhi oleh perilaku perdagangan—siapa yang membeli dan siapa yang menjual pada waktu tertentu. Ketika pemegang besar mengendalikan sebagian besar token yang beredar, keputusan mereka bisa memberikan dampak yang sangat besar.
Jika beberapa dompet besar memutuskan untuk menjual, penambahan pasokan ini dapat menekan harga. Di sisi lain, banyak pemegang Shiba Inu yang tersisa adalah investor ritel kecil, yang biasanya memiliki modal terbatas untuk menyerap pesanan jual besar.
Laporan ini menghubungkan hal ini dengan siklus yang saling memperkuat. Saat harga Shiba Inu turun, minat investor sering kali semakin melemah. Hal ini bisa menyebabkan penurunan volume perdagangan dan likuiditas, yang kemudian membuat pasar lebih sensitif terhadap tekanan jual.
Saat penulisan, SHIB diperdagangkan pada harga $0.0000063, mencatat kenaikan kecil sebesar 1.8% dalam tujuh hari terakhir.

