[BANGKOK] Indeks harga konsumen (CPI) Thailand mengalami kenaikan sebesar 2,89 persen pada bulan April dibandingkan tahun sebelumnya, ini adalah peningkatan terbesar dalam lebih dari tiga tahun. Kenaikan ini terjadi setelah penurunan 0,08 persen pada bulan Maret, seperti yang diinformasikan oleh Kementerian Perdagangan pada Rabu (6 Mei).
Kenaikan harga ini didorong oleh lonjakan harga energi, yang jauh di atas perkiraan kenaikan 1,81 persen dalam survei Reuters.
Ini adalah kenaikan tahunan pertama dalam headline CPI sejak Maret 2025, dan merupakan peningkatan terbesar sejak Februari 2023.
Kementerian Perdagangan mempertahankan proyeksi inflasi tahunan sebesar 1,5 persen hingga 2,5 persen untuk tahun ini, yang masih dalam rentang target bank sentral sebesar 1 persen hingga 3 persen.
Sementara itu, CPI inti yang mengecualikan harga energi dan makanan segar, naik sebesar 0,83 persen pada bulan April dibandingkan tahun lalu.
Inflasi headline diperkirakan mencapai 3,06 persen pada bulan Mei akibat harga energi, ungkap Nanthaphong Jiraleksapong, Direktur Kantor Kebijakan dan Strategi Perdagangan, dalam sebuah konferensi pers.
Inflasi headline pada kuartal kedua diperkirakan berada di angka 3,67 persen, katanya.
Nanthaphong juga menekankan bahwa meski pertumbuhan ekonomi lambat dan inflasi tinggi, “ekonomi Thailand tidak mengalami stagflasi”.

