Pelajaran Berharga dari Perjalanan Mariam Naficy dalam Membangun Minted
Mariam Naficy, pendiri dan ketua Minted, menghadapi tantangan besar saat membuka usaha stasioneri onlinenya, Minted. Bayangkan saja, dia harus berhadapan dengan mimpi buruk yang dihadapi banyak pendiri startup: sunyi senyap. Di tahun 2008, tidak ada yang membeli produk stasioneri secara online. Naficy telah mengumpulkan dana sebesar $2,5 juta dari teman dan keluarga, dan sebagian besar uang tersebut telah ia gunakan untuk membangun bisnisnya. Sekarang, dia berada di ambang kebangkrutan.
Tapi Naficy punya satu hal yang bisa diandalkan. Dari total dana $2,5 juta yang ia kumpulkan, ia mengalokasikan $100.000 untuk mengadakan kompetisi desain bagi para seniman. Karya yang menang akan dijual di Minted. Ia telah mempresentasikan ide “crowdsourcing” ini kepada para investor, namun tidak ada yang antusias. Mereka lebih suka jika Naficy fokus menjual merek stasioneri yang sudah dikenal.
Namun, kompetisi ini justru menjadi penyelamat bagi perusahaannya. Para seniman mengirimkan desain kartu, dan komunitas memberikan suara untuk memilih yang terbaik. Alih-alih berperan sebagai pengecer stasioneri digital, Naficy mengubah Minted menjadi pasar dan komunitas bagi para seniman independen. Sejak saat itu, Minted melesat pesat dan kini mencatatkan pendapatan hingga $300 juta.
Saat ini, sebagai ketua Minted, Naficy berbagi perjalanan dan bagaimana ia belajar untuk mempercayai instingnya. Seluruh tanggapannya telah diringkas untuk memudahkan pemahaman.
Mengenal Mariam Naficy
Naficy adalah seorang pendiri sekaligus investor pendukung. Ia telah mendirikan tiga perusahaan: Eve, pengecer kosmetik online pertama yang ia dirikan pada tahun 1998 dan dijual ke LVMH pada tahun 2000; Minted, pasar desain yang didirikan pada tahun 2007 dan dijalankan selama 16 tahun; serta Arcade, sistem desain dari AI ke produk fisik yang ia dirikan pada tahun 2023. Dengan Arcade, ia menggunakan AI sebagai alat untuk mengubah selera menjadi produk yang dapat diproduksi.
Selama perjalanannya, Naficy telah memadukan pemikiran sistematis, selera, dan eksekusi menjadi kekuatannya. Ia tumbuh di berbagai negara dan belajar banyak hal dari perbedaan budaya yang ia lihat.
Awal Mula Minted
Minted dimulai pada 2007 di lantai atas rumahnya di San Francisco, setelah ia meninggalkan pekerjaan di The Body Shop. Ia berkeinginan untuk membangun bisnis gaya hidup yang memberinya waktu lebih bersama anak-anaknya. Namun ketika meluncurkan Minted, dia justru berfokus pada undangan pernikahan yang tidak laku di pasaran.
Nanum ketika ia beralih ke desain kartu liburan dan menggandeng para seniman independen untuk berkolaborasi, situasi berubah drastis. Penjualan melonjak tinggi, bahkan begitu pesatnya hingga mereka terpaksa menghentikan pemasaran dan harus menolak beberapa pesanan karena kehabisan kapasitas.
Pelajaran Penting dari Pengembangan Bisnis
Salah satu pelajaran berharga yang diambil Naficy adalah pentingnya data dalam pengambilan keputusan. Pada masa awal, ia bahkan sempat berpikir untuk menutup Minted karena penjualan yang sangat sedikit. Namun, setelah beralih ke desain yang crowdsourced, semua berubah. Hal ini mengajarkan bahwa keputusan yang diambil berdasarkan sampel kecil bisa sangat menyesatkan.
Naficy juga menceritakan pengalaman menarik saat ia meluncurkan Minted, di mana kolaborasi dengan mahasiswa yang ia temui secara online membentuk inti dari komunitas kreatif yang kini telah berkembang menjadi lebih dari 20.000 orang.
Di sepanjang perjalanan ini, Naficy mengakui bahwa salah satu kesalahannya adalah membuat pilihan “aman” yang membuatnya jauh dari risiko. Ia menyadari bahwa keberhasilan Minted justru datang ketika ia berani mengambil langkah yang kurang biasa.
Nasihat untuk Pendiri Startup
Bagi para pendiri, Naficy menyarankan untuk berhati-hati dalam memulai suatu perusahaan, pastikan produk yang diciptakan memiliki potensi distribusi atau viralitas yang inheren. Kurangi perhatian pada penilaian orang lain, karena yang terpenting adalah keyakinan pada visi dan misi yang telah ditetapkan.
Dalam perjalanan bisnisnya, Naficy belajar kalau baiknya sebuah usaha bukan hanya tentang produk saja, tetapi juga tentang bagaimana memimpin tim dan membangun hubungan antar orang. Usai melewati berbagai tantangan, dia kini harus menjalani peran sebagai pemimpin yang dihormati.
Melalui kisahnya, Mariam Naficy menunjukkan bahwa keberanian untuk mengikuti insting dan berinovasi dapat menjadi kunci dalam meraih kesuksesan di dunia bisnis yang kompetitif ini.

