Ukraina baru saja mengungkap skuadron Horynych, drone pengebom yang bisa digunakan berulang kali, yang dikembangkan dari pesawat sipil untuk operasi serangan jarak jauh. Ini adalah langkah inovatif yang mengubah cara Ukraina beroperasi di medan perang.
Gambar resmi menunjukkan ada setidaknya sepuluh pesawat modifikasi yang membawa bom udara OFAB-100-120 yang didesain oleh Soviet, menunjukkan bahwa program ini telah melewati fase ujicoba yang terbatas.
Pesawat ini menggunakan kerangka ultralight SkyRanger Swift dan Nynja yang awalnya dirancang untuk penerbangan rekreasi. Namun, setelah proses konversi, pesawat ini kini siap digunakan di medan perang.
Pesawat Sipil Menjadi Drone Pengebom
Para insinyur mengganti kontrol kokpit konvensional dengan peralatan pengendalian jarak jauh dan kamera elektro-optikal, memungkinkan operator untuk mengendalikan pesawat dari darat selama misi pengeboman. Setiap pesawat membawa satu bom OFAB-100-120 seberat sekitar 100kg di bawah fuselase saat melakukan operasi jarak jauh.
Berbeda dengan drone serangan yang sekali pakai, pesawat ini dirancang untuk kembali dengan selamat setelah melepaskan muatannya, siap untuk misi selanjutnya. Penampilan setidaknya sepuluh drone secara bersamaan menunjukkan bahwa kemampuan ini telah berkembang menjadi kekuatan operasional yang lebih besar dan bukan sekadar eksperimen terbatas.
Gambaran suasana sekitar yang tampak gersang menunjukkan bahwa foto-foto tersebut kemungkinan diambil beberapa bulan sebelum dirilis kepada publik. Jika benar, Ukraina mungkin telah menyimpan armada pengebom ini untuk waktu yang lama sebelum mengungkapkannya secara resmi.
Serangan yang Menarik Perhatian pada Kemampuan Serangan Jauh
Menurut Serhii Sternenko, penasihat Menteri Pertahanan Ukraina, pesawat ini terlibat dalam serangan malam terhadap fasilitas logistik bawah tanah Rusia dekat Armyansk di Crimea yang diduduki. Armyansk memiliki posisi strategis dekat dengan Perekop Isthmus, yang menghubungkan Crimea dengan wilayah yang dikuasai Rusia dan mendukung pergerakan pasokan militer.
Fasilitas bawah tanah ini berfungsi sebagai tempat penyimpanan dan distribusi bahan bakar, amunisi, dan peralatan militer yang mendukung operasi militer Rusia.
Serangan ini dilaporkan dilakukan secara bersama oleh Angkatan Udara Ukraina, Grup Lazar, dan Pusat Sistem Tak Berawak Venom. Namun, militer Ukraina maupun Kementerian Pertahanan belum mengkonfirmasi jumlah pesawat yang terlibat atau tingkat kerusakan yang ditimbulkan. Penilaian independen terhadap serangan yang dilaporkan juga belum diterbitkan, sehingga beberapa detail operasional utama belum terverifikasi.
Sebelumnya, Ukraina telah menggunakan pesawat sipil yang dimodifikasi untuk serangan jarak jauh, termasuk serangan pada Juni 2025 menggunakan A-22 Foxbat yang menarik glider tanpa motor. Glider tersebut membawa hulu ledak seberat 100 kilogram dan menghantam fasilitas produksi drone Shahed di Alabuga. Penggunaan armada SkyRanger yang dimodifikasi juga telah dilakukan sejak 2024, meskipun sebelumnya pandangan umumnya hanya melibatkan pesawat individu, bukan kelompok operasional yang lebih besar.
Apakah armada Horynych yang diperluas ini mampu menjalankan misi berulang kali jauh ke dalam wilayah Rusia tetap menjadi tanda tanya tanpa konfirmasi independen mengenai hasilnya. Pejabat Ukraina juga belum memberikan garis waktu publik tambahan tentang kapan program Horynych yang lebih luas akan memperluas operasinya secara signifikan. Informasi tentang ukuran armada dan kerusakan yang dapat ditimbulkan juga masih belum jelas.

