Hasil penelitian menunjukkan bahwa sekitar 40% karyawan di Inggris mengalami ‘work slop’ akibat konten berkualitas rendah yang dihasilkan oleh AI. Hal ini menyebabkan setiap insiden ‘work slop’ menghabiskan hingga 3,5 jam per bulan untuk diperbaiki, yang berujung pada hilangnya produktivitas hingga jutaan pounds.
Sejak pertengahan 2026, dilaporkan sekitar 78% perusahaan di seluruh dunia menggunakan AI dalam setidaknya satu fungsi bisnis. Meskipun begitu, sebanyak 62% hingga 80% pekerja merasa kurang yakin atau tidak mendapatkan pelatihan yang memadai dalam menggunakan AI, banyak yang mengaku tidak memiliki keterampilan untuk memanfaatkan alat ini dalam tugas sehari-hari, yang dapat berujung pada kesalahan dan ‘work slop’.
Apa itu ‘work slop’ yang disebabkan oleh AI?
Banyak pekerja menggunakan AI untuk membuat tugas sehari-hari seperti menghasilkan laporan, email, atau kode menjadi lebih efisien. Namun, jika digunakan secara tidak tepat, pekerja bisa menghadapi konten berkualitas rendah yang mungkin terlihat baik di permukaan, namun setelah diteliti lebih dekat, ternyata tidak akurat dan membutuhkan waktu berjam-jam untuk diperiksa dan diperbaiki secara manual.
Langkah-langkah untuk mengurangi ‘work slop’ akibat AI
Jadikan pelatihan sebagai tujuan utama: Tanpa pelatihan yang tepat, kesalahan pasti akan terjadi saat menggunakan perangkat lunak AI. Pemilik bisnis harus memastikan bahwa karyawan dilatih untuk menggunakan AI dengan lebih efisien dan memahami batasan-batasannya. Jika pelatihan dilakukan sejak tahap orientasi karyawan atau seawal mungkin dalam proyek, kemungkinan terjadinya ‘work slop’ dapat diminimalkan.
Mulailah dengan brainstorming: AI seharusnya digunakan untuk memperkuat pekerjaan, bukan untuk menggantikannya sepenuhnya. Sebelum menyelesaikan tugas yang melibatkan AI, penting untuk merencanakan bagaimana AI bisa digunakan dan tujuan apa yang ingin dicapai. Cobalah membuat sebagian besar konten dari awal dan gunakan AI untuk mendukung dan meningkatkan hasil akhir.
Lakukan proses ulasan: Pekerjaan yang dihasilkan oleh AI seharusnya tidak disampaikan kepada manajemen atau klien sebelum diperiksa oleh anggota tim yang berpengalaman. Pemilik bisnis harus memastikan bahwa semua tugas yang dihasilkan AI telah ditinjau dan diperiksa kebenarannya sebelum ditampilkan sebagai versi akhir.
Metode yang efektif adalah dengan menciptakan pola pikir bahwa hasil kerja AI seperti yang dihasilkan oleh seorang intern yang kurang pengalaman di industri. Dengan pendekatan ini, kesalahan dapat lebih cepat terdeteksi.
Dorong transparansi: Untuk mengurangi ‘work slop’, pemilik bisnis harus mendorong pekerja untuk memanfaatkan AI sebagai pendukung, bukan sebagai pengganti. Penting juga bagi pekerja untuk jelas mengenai bagaimana AI membantu dalam tugas yang mereka lakukan agar proses ulasan menjadi lebih efisien.
Dorong umpan balik dari tim: Salah satu cara utama untuk mencegah ‘work slop’ adalah dengan memberi tahu rekan kerja jika kesalahan telah ditemukan. Seringkali, orang akan langsung memperbaiki kesalahan tanpa bersikap transparan terhadap umpan balik yang konstruktif. Mengangkat isu ‘work slop’ di awal proyek akan menghemat waktu dan mencegah masalah tersebut muncul kembali.
Buat beban kerja yang terkelola: Pekerja yang tidak dapat mengelola beban kerja mereka sering kali menyelesaikan tugas dengan cepat menggunakan AI, yang berujung pada ‘work slop’. Untuk mencegah ini, perusahaan harus mengutamakan kualitas di atas kuantitas dan memastikan bahwa beban kerja yang tidak terkelola tidak mengganggu prinsip ini.
Kunci Kesuksesan AI dalam Bisnis
Bagi perusahaan yang menggunakan AI, perangkat lunak seharusnya digunakan untuk meningkatkan pekerjaan dan membuat proses lebih efisien, bukan untuk menimbulkan keterlambatan dan kesalahan. Jika bisnis Anda ingin mengadopsi AI, penting untuk berkomunikasi secara transparan kepada karyawan kapan penggunaan AI diperbolehkan dan kapan sebaiknya dihindari.
Karyawan perlu memiliki pola pikir yang kuat terhadap AI dan selalu memikirkan kualitas dan nilai saat memahami hasil yang ingin dicapai. Saat merencanakan tugas, penting untuk bertanya: Apakah AI akan menambah nilai dan wawasan tambahan dalam proyek ini, dan bagaimana AI dapat membantu mencapai tujuan Anda?
Setelah mempertimbangkan poin-poin tersebut, penting untuk memahami apa yang tidak dapat dilakukan oleh AI, seperti perspektif manusia dan kreativitas strategis. Jika Anda memutuskan untuk menggunakan AI untuk tugas yang lebih mengandalkan pemikiran dan kreativitas manusia, ‘work slop’ bisa terjadi, yang akan mengakibatkan pemborosan waktu dan sumber daya.
Secara keseluruhan, AI harus digunakan untuk menghasilkan konten dan hasil yang bernilai. Bertanya pada diri sendiri tentang poin-poin yang disebutkan sebelumnya sebelum beralih ke perangkat lunak akan membantu menghasilkan hasil yang optimal.
Model Mental yang Efektif untuk Mencegah ‘Work Slop’
Sebelum karyawan dapat menggunakan AI dengan bertanggung jawab, mereka perlu memahami fungsi sebenarnya dari AI. Dalam buku “AI for Startup Leaders,” kami memperkenalkan kerangka kerja bernama A-R-C yang mencakup tiga kemampuan inti dari AI:
- Agensi: AI dapat bekerja dengan alat, menjalankan kode, dan menyelesaikan tugas atas nama karyawan. Misalnya, AI dapat mengambil data dari CRM, menyusun dokumen, atau memperbarui spreadsheet.
- Penalaran: AI dapat merencanakan dan memikirkan masalah secara bertahap. Model terbaru dapat memecah tantangan kompleks, mempertimbangkan beberapa pendekatan, dan bekerja melalui rantai logika.
- Konteks: AI dapat mendasarkan jawabannya pada informasi yang Anda berikan dalam setiap percakapan. AI memahami bahasa alami, mengenali objek dalam foto, dan menganalisis data di spreadsheet.
Model A-R-C sangat penting, karena banyak pekerja menggunakan AI sebagai ensiklopedia dan menyatakan fakta, yang bukan tujuan perangkat lunak ini diciptakan. Ketika orang mengandalkan AI untuk fakta, ‘work slop’ dapat terjadi. Untuk menghindari ini, pekerja harus mendapatkan pemahaman yang benar tentang tujuan utama AI, berfokus pada penalaran dalam konteks bisnis mereka dan mengambil tindakan yang tepat.
Setelah karyawan memahami A-R-C, mereka akan mendekati output AI dengan cara yang berbeda. Mereka menyadari bahwa AI sebaiknya digunakan untuk penalaran dalam konteks bisnis mereka, bukan sekadar mencari jawaban. Dengan demikian, mereka menggunakan AI untuk mempercepat kolaborasi dengan tim lain dan meningkatkan efisiensi.

