Generative AI saat ini menunjukkan kemampuan yang luar biasa, terutama dalam menghasilkan gambar dan video yang memukau berdasarkan instruksi berbasis teks. Namun, banyak gambar yang dihasilkan mencuri gaya khas para seniman ikonis, dan tidak sedikit dari mereka merasa kurang senang dengan hal ini.
Filmmaker terkenal, Tim Burton, yang dikenal lewat karya-karya bergaya unik seperti Edward Scissorhands dan The Nightmare Before Christmas, salah satu yang merasakan dampak dari penggunaan AI dalam seni. Dia mengungkapkan betapa mengganggunya rasanya ketika karyanya ditiru oleh teknologi. Menurut Burton, “Apa yang terjadi adalah ketika Anda ditiru, seakan mengambil sesuatu dari jiwa Anda; itu sangat mengganggu, terutama jika ada hubungannya dengan Anda. Rasanya seperti robot mengambil kemanusiaan Anda, jiwa Anda.”
Komentar Burton pun menggugah perdebatan mengenai apakah media yang dihasilkan oleh AI dapat dianggap ‘asli’ atau ‘kreatif’, atau sekadar hasil rata-rata dari berbagai karya yang ada.
AI semakin merasuk ke dalam industri kreatif. Beberapa studio besar tengah mencari cara untuk memanfaatkan AI dalam proses produksi, termasuk penggunaan elemen di layar, seperti yang dilakukan Lionsgate dalam kemitraan mereka dengan Runway AI. Meskipun mendapat peringatan dari para filmmaker, tren ini tetap berkembang, seperti studio A24 yang juga menjalin kerja sama dengan Google untuk mengembangkan alat pembuatan film berbasis AI.
Burton tidak sendirian dalam pemikirannya. Hayao Miyazaki, sutradara legendaris Jepang yang dikenal lewat film-film Studio Ghibli seperti My Neighbour Totoro, juga memiliki pandangan serupa. Miyazaki menyatakan, “Anda bisa membuat hal-hal mengerikan jika mau, tapi saya tidak ingin terlibat. Ini adalah penghinaan yang luar biasa terhadap kehidupan.” Ia merespons kabar bahwa seorang ilustrator menggunakan AI untuk membantu karyanya dalam film Boro the Caterpillar.
Di sisi lain, dengan penggunaan AI dalam industri kreatif yang kian meningkat, banyak studio berusaha menemukan cara untuk berkolaborasi dengan teknologi ini demi menciptakan karya yang lebih inovatif. Namun, hasilnya masih menuai kritik dari banyak pihak yang percaya bahwa seni yang sejati tak bisa dihasilkan tanpa sentuhan manusia. Ini menimbulkan pertanyaan tentang masa depan kreatifitas di era digital.
Keberadaan AI dalam seni memang membawa diskusi yang menarik. Di satu sisi, teknologi ini membuka kemungkinan baru bagi para seniman untuk bereksperimen dan berinovasi. Di sisi lain, ada risiko kehilangan esensi dan keunikan dari karya seni yang dihasilkan. Menghadapi situasi ini, para seniman mungkin harus lebih kreatif dan lebih gigih dalam mempertahankan nilai-nilai kemanusiaan dalam setiap karya mereka.
Dalam perjalanan ke depan, penting bagi industri kreatif untuk menemukan keseimbangan antara teknologi dan intuisi manusia. Alat-alat baru ini bisa menjadi mitra, tetapi bukannya menggantikan, dan para seniman harus terus berbicara mengenai bagaimana AI seharusnya digunakan, bukan hanya diambil begitu saja.

