Tesla baru-baru ini mengajukan permohonan merek dagang untuk ‘Megapod’, menandakan langkahnya untuk memperluas jangkauan bisnis dari sekadar mobil listrik, baterai, dan energi solar. Selain itu, Tesla sudah terlibat dalam transportasi otonom dan robotika humanoid lewat Robotaxi dan Optimus. Sekarang, perusahaan ini berusaha membangun infrastruktur pusat data AI modular.
Meski permohonan ini bersifat intent-to-use, yang berarti belum ada produk komersial yang tersedia, dokumen tersebut menjelaskan tentang platform komputasi AI yang terintegrasi, mencakup server, perangkat keras AI, peralatan jaringan, unit distribusi daya, pendinginan, dan perangkat lunak.
Namun, proyek dan permohonan merek ini sudah menghadapi tiga masalah besar. Pertama, konsep Megapod sudah ada sebelumnya. Kedua, merek ‘Megapod’ sudah dimiliki oleh orang lain. Ketiga, pasar ini sudah dipenuhi oleh pemain-pemain besar seperti Nvidia dan Huawei yang lebih mapan.
Tesla sebelumnya memang sudah menerapkan strategi penamaan ‘Mega’, seperti yang terlihat pada produk Megapack. Sistem baterai ini menawarkan proposisi komersial yang mirip dengan Megapod yang diusulkan, berupa modul lengkap yang dibangun di pabrik dan dapat diterapkan dengan cepat tanpa banyak perakitan atau konstruksi di lokasi.
Alih-alih mengharuskan pelanggan untuk merakit server, jaringan, pendinginan, dan infrastruktur lain secara mandiri, Megapod bisa datang sebagai pusat data AI plug-and-play yang dapat diperluas berkat desain modularnya.
Berita ini muncul sekitar setahun setelah perusahaan Musk dilaporkan menghentikan proyek komputer pelatihan Dojo AI, yang menunjukkan bahwa mereka tidak lagi mengejar pasar chip AI. Kini tampaknya Tesla akan fokus pada infrastruktur fisik yang lebih lengkap dengan menggunakan chip yang ada.
Mitsubishi sudah memiliki MegaPod-nya sendiri dan telah mendaftarkan mereknya. Ini bukan pertama kalinya Musk menghadapi masalah terkait merek dagang. Ia gagal memperoleh merek Robotaxi karena dianggap terlalu umum dan mengalami penundaan pada merek Cybercab karena ada pelamar lain yang lebih dulu.
Submer juga menjual MegaPod-nya, yang dijelaskan sebagai pusat data dalam bentuk kotak, menambah kerumitan penamaan.
Apakah ada ruang untuk Tesla bergabung di pasar?
Terkait masalah merek, jika Tesla meluncurkan produk sejenis Megapod, mereka akan menghadapi persaingan ketat dari para pesaing yang sudah mapan. Platform DGX dan HGX dari Nvidia sudah jadi hal biasa dalam penerapan perusahaan, sementara Huawei juga telah mengembangkan solusi berbasis akselerator Ascend miliknya. Produsen server seperti Dell dan HPE juga memiliki perangkat keras mereka sendiri.
Namun, Tesla bisa memanfaatkan pengalaman lebih luasnya untuk menarik beberapa pelanggan masuk ke dalam ekosistemnya. Integrasi dengan Megapack-nya, misalnya, bisa memberikan pasokan daya yang tidak terputus. xAI telah membeli Megapacks senilai satu miliar dolar. Daya beli dan efisiensi internal lainnya juga dapat membantu menekan biaya.
Saat ini, perusahaan ini tidak memiliki basis pelanggan enterprise yang besar, tetapi startup AI mungkin akan tertarik dengan teknologi mereka.
Pendinginan terintegrasi juga bisa jadi nilai jual utama, di mana efisiensi termal kini hampir sama pentingnya dengan performa chip itu sendiri. Nvidia, misalnya, sudah memperkenalkan pendinginan cair generasi berikutnya khusus untuk sistem Rubin mereka.
Ke depannya, mengingat rekam jejak Musk dan perusahaan-perusahaannya, kemungkinan kita lebih sering mendengar perkembangan tentang Megapod melalui unggahan X atau peluncuran mendadak, ketimbang melalui posting blog atau pengumuman resmi.

