Jalur Kabel Selam Lewat Kutub Utara
Uni Eropa (UE) sedang mempertimbangkan rute baru untuk kabel internet bawah laut yang melewati Arktik. Tujuan utama dari rencana ini adalah menghindari daerah-daerah konflik dan ketidakstabilan, seperti Rusia dan Iran. Rute yang diusulkan ini diperkirakan akan menelan biaya sekitar 2 miliar euro dan diharapkan bisa beroperasi pada tahun 2030.
Bagi para pengguna di Asia, terutama yang mengakses internet dari Eropa, sekitar 90% lalu lintas data mereka melalui kabel internet bawah laut yang ada di Timur Tengah. Mengingat ketegangan terbaru antara Amerika Serikat dan Iran, pengembangan kapasitas serta proyek baru tampak sulit untuk dilakukan. Meta, perusahaan besar di industri teknologi, juga merasakan dampak dari situasi ini.
Untuk mengatasi masalah tersebut dan menghindari gangguan dari jalur internet yang melewati Rusia, UE berencana menggunakan Jalur Barat Laut, yang mengarah ke Arktik. Ini adalah langkah besar yang mengatakan banyak tentang keinginan UE untuk memiliki kontrol atas jalur komunikasi mereka. Proyek ini diberi nama Polar Connect dan jelas menjadi prioritas bagi UE dengan target operasional pada tahun 2030.
Ada beberapa tantangan di kedua rute yang diusulkan. Salah satunya adalah jalur melalui Jalur Barat Laut di Kanada, yang terkenal dengan tumpukan es di wilayahnya. Untungnya, perubahan iklim telah mengurangi banyak es laut di Arktik, sehingga membuat jalur ini lebih dapat diterima. Di sisi lain, rute yang melalui Kutub Utara akan menghubungkan kabel dari Skandinavia dan melintasi Kutub Utara itu sendiri.
Kedua rute ini memerlukan peralatan canggih untuk peletakan kabel di area yang esnya sangat tebal. Biaya untuk alat ini tidak murah, karena bisa jadi salah satu kapal harus mencairkan es sementara kapal lainnya bertugas untuk menempatkan kabel yang baru. Namun, banyak pihak percaya bahwa biaya ini layak dibayar demi koneksi yang lebih stabil dengan Asia.
Sebelumnya, kabel bawah laut sempat dilewati di bawah lautan Arktik oleh perusahaan Quintillion. Meskipun mereka meraih sukses, mereka menghadapi tantangan besar akibat es yang merusak kabel. Pada bulan Juni 2023, Quintillion tidak memiliki kapal pemecah es dan harus menunggu es mencair sebelum bisa memperbaiki kabel yang rusak. Hal yang sama terjadi lagi pada Januari 2025, yang mengakibatkan banyak warga Alaska kehilangan akses internet cepat selama delapan bulan. Akibatnya, Quintillion tidak melanjutkan pembangunan jalur ke Asia.
Namun, mempertimbangkan biaya dan risiko yang dihadapi dalam meletakkan dan memperbaiki kabel, ditambah ancaman pemajakan oleh negara-negara yang tidak bersahabat, rute senilai 2 miliar euro lewat Arktik bisa jadi solusi terbaik bagi Eropa. Ini memberikan Eropa kedaulatan atas kabel mereka dan data yang mengalir di dalamnya.

