Goldman Sachs memiliki tiga model kecerdasan buatan (AI) asal China yang jadi favorit mereka, namun hanya satu yang diperdagangkan secara publik. Pada hari Jumat, bank investasi ini memulai analisis terhadap Zhipu, yang terdaftar di Hong Kong dan juga dikenal sebagai Knowledge Atlas, dengan target harga 1.880 dolar Hong Kong (sekitar $239,83). Ini menunjukkan potensi kenaikan hampir 15% dari harga penutupan saham pada hari itu. Sejak melantai di bursa Hong Kong pada Januari, perusahaan ini sudah melesat jauh. Baru-baru ini, Zhipu mendapatkan perhatian lebih karena model GLM-5.2 yang bersifat open-source dianggap bisa bersaing dengan model Fable 5 dari Anthropic dalam beberapa metrik.
Menurut analisis mereka, “Dengan model GLM5.2 yang terbaru mencapai kinerja hampir di garis depan, dan mengalami peningkatan signifikan dalam adopsi oleh perusahaan domestik dan UKM global, kami percaya bahwa penggunaannya yang luas oleh para coder akan memungkinkan Zhipu untuk mempertahankan frekuensi tinggi dalam peningkatan model selanjutnya, dan dengan demikian memperkuat posisinya sebagai pemimpin dalam enterprise/coding di China.”
Meskipun Goldman Sachs memberi penilaian netral terhadap saham Zhipu, mereka mengidentifikasi dua perusahaan model AI asal China lainnya yang mereka favoritkan, yaitu Deepseek dan ByteDance, yang keduanya adalah perusahaan swasta. Dalam laporan terpisah yang dirilis pada hari Jumat, Goldman mengevaluasi model-model tersebut berdasarkan berbagai faktor seperti waktu peluncuran, skor arena, valuasi, dan harga. Penelitian tersebut juga mencakup kemampuan generasi video AI, di mana ByteDance menduduki peringkat tertinggi.
Model GLM Zhipu dan model DeepSeek secara umum mendapat peringkat lebih baik dibandingkan dengan model-model dari Alibaba, Tencent, dan Minimax, terutama dalam hal waktu peluncuran dan skor arena, menurut laporan Goldman.
Dalam 60 hari perdagangan terakhir di pasar Hong Kong, saham Zhipu melonjak hingga 70%, sementara saham Minimax anjlok lebih dari 70%. Saham Alibaba mengalami penurunan hampir 10%, sedangkan Tencent turun sekitar 5%.
Para analis mencatat, “Model open-source/open-weight AI di China kini mencapai titik kritis dalam kinerja kecerdasan dibandingkan dengan model global yang bersifat proprietary.” Kecerdasan AI yang berorientasi pada agen memberikan permintaan yang sangat besar untuk model-model yang menawarkan nilai dalam kategori harga yang lebih terjangkau. Akses ke komputasi akan menjadi faktor penentu, di mana regulasi AS dan China, serta efisiensi inferensi, menjadi kunci penting.”

