Setelah penutupan pasar, ada beberapa perusahaan yang jadi sorotan, mulai dari United Airlines hingga Adobe. Yuk, kita intip siapa saja yang berperforma menarik!
United Airlines — Meski menghadapi tekanan dari meningkatnya harga bahan bakar, saham United naik sekitar 1%. Perusahaan ini merilis proyeksi yang mengecewakan untuk kuartal ini dan tahun penuh ke depan. United memperkirakan laba yang disesuaikan untuk tahun 2026 antara $7 sampai $11 per saham, turun dari perkiraan sebelumnya yang berkisar $12 hingga $14 per saham. Untuk kuartal saat ini, perusahaan memprediksi laba yang disesuaikan antara $1 hingga $2 per saham, lebih rendah daripada estimasi FactSet yang mencapai $2,08. Namun, laba dan pendapatan mereka di kuartal pertama ternyata melampaui ekspektasi pasar.
Capital One Financial Group — Saham Capital One anjlok hampir 4% setelah mereka melaporkan laba kuartal pertama sebesar $4,42 per saham, tanpa menghitung item-item tertentu, dengan pendapatan mencapai $15,23 miliar. Ini lebih rendah dari proyeksi laba yang diharapkan analis, yaitu $4,55 per saham dan pendapatan sebesar $15,36 miliar menurut LSEG.
Interactive Brokers Group — Saham perusahaan broker ini turun hampir 2% setelah pendapatan kuartal pertama mereka hanya mencapai $1,68 miliar, lebih rendah dari ekspektasi sebesar $1,71 miliar yang diajukan analis yang diteliti oleh LSEG. Meskipun begitu, laba yang disesuaikan sebesar 60 sen per saham sesuai dengan ekspektasi yang ada.
Chubb — Saham Chubb kehilangan 1% meskipun mereka melaporkan laba operasional inti kuartal pertama sebesar $6,82 per saham, melampaui proyeksi sebesar $6,60 menurut FactSet. Premi bersih yang ditulis untuk kuartal ini juga mencapai $14,01 miliar, di atas perkiraan $13,56 miliar.
W. R. Berkley — Saham perusahaan asuransi ini melonjak 2% setelah melaporkan laba operasional kuartal pertama sebesar $1,30 per saham, lebih tinggi dari konsensus yang sebesar $1,13 menurut FactSet. Namun, premi bruto dan neto mereka ternyata lebih rendah dari ekspektasi.
Adobe — Saham Adobe naik lebih dari 2% setelah dewan direksinya menyetujui program pembelian kembali saham sebesar $25 miliar hingga April 2030. Rencana buyback ini hadir di tengah pergerakan saham Adobe yang turun lebih dari 29% sejak awal tahun.
Melihat pergerakan saham ini memberikan gambaran tentang bagaimana perusahaan-perusahaan besar menghadapi tantangan dan mengambil langkah strategis di tengah situasi pasar yang fluktuatif. Bagi para investor, menarik untuk mengamati bagaimana dampak dari keputusan-keputusan ini terhadap performa jangka panjang setiap perusahaan. Dengan pengetahuan yang tepat, kita bisa mengambil keputusan investasi yang lebih baik.

