JAKARTA, investortrust.id – Nilai tukar rupiah menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (5/11/2026). Rupiah terapresiasi 0,45% dibandingkan posisi penutupan sebelumnya menjadi Rp18.086 per dolar AS.
Berdasarkan pantauan di papan data Bloomberg, penguatan rupiah sejalan dengan mayoritas mata uang di kawasan Asia yang bergerak positif terhadap dolar AS.
Beberapa mata uang Asia yang menguat mencakup yen Jepang sebesar 0,29%, yuan China 0,09%, rupee India 0,1%, ringgit Malaysia 0,3%, dolar Singapura 0,11%, serta baht Thailand yang naik 0,5%. Namun, tidak semua mata uang beruntung; won Korea Selatan justru mengalami pelemahan dengan koreksi sebesar 0,04%.
Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro, menjelaskan bahwa penguatan mata uang di kawasan Asia, termasuk rupiah, didorong oleh pelemahan dolar AS dan penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS atau US Treasury. Imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun turun tajam sekitar 7,4 basis poin (bps) menjadi 4,89%, sedangkan imbal hasil tenor 2 tahun terkoreksi 3,0 bps menjadi 4,58%.
Penguatan harga obligasi pemerintah AS terjadi berkat ekspektasi investor yang menilai bahwa pemerintahan AS yang terpecah dapat membatasi ekspansi fiskal dan penerbitan obligasi Treasury. Kondisi ini berpotensi meredakan tekanan inflasi dan mengurangi kebutuhan untuk pengetatan kebijakan moneter yang agresif dari Federal Reserve (The Fed).
Andry mencatat indeks dolar AS (DXY) melemah 0,34% ke level 101,52. Meski begitu, indeks tersebut masih mencatatkan penguatan 3,26% secara year to date (ytd).
Penurunan imbal hasil US Treasury dan kemenangan Partai Demokrat juga turut mengurangi permintaan terhadap dolar AS. Dari sisi tenaga kerja, jumlah pekerja sektor swasta AS bertambah 86.000 pada Oktober 2026, lebih tinggi dibandingkan konsensus pasar yang memprediksi hanya 69.000. Sementara itu, indeks ISM Services Purchasing Managers’ Index (PMI) tetap berada di zona ekspansi pada level 54,5.
Andry menambahkan, pasar kini memusatkan perhatian pada rilis data nonfarm payrolls (NFP) yang akan diumumkan Jumat mendatang, dengan estimasi penambahan tenaga kerja sekitar 65.000 dan tingkat pengangguran tetap di 4,2%.
The Fed Masih Hawkish
Andry mengungkapkan bahwa The Fed masih mempertahankan sikap hawkish pause. Namun, penurunan imbal hasil US Treasury setelah pemilu AS sedikit mengurangi ekspektasi pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut.
Inflasi yang masih tinggi dan kondisi pasar tenaga kerja yang cukup kuat tetap menunjukkan bahwa kenaikan suku bunga pada bulan Desember adalah skenario yang mungkin terjadi.
Meskipun ada harapan bahwa pemerintahan AS yang terpecah bisa membatasi belanja fiskal dan investasi yang berkaitan dengan kecerdasan buatan (AI), hal ini berpotensi mengurangi tekanan inflasi dan imbal hasil obligasi. Selain itu, pergerakan harga minyak mentah juga menjadi sorotan pasar.
Harga minyak mentah Brent anjlok 8,69% menjadi US$94,6 per barel, mencatat level terendah dalam lebih dari dua bulan. Penurunan ini dipicu oleh meningkatnya ekspektasi bahwa kemenangan Partai Demokrat dapat mempercepat penyelesaian konflik AS-Iran.
Investor memperkirakan bahwa pengawasan Kongres yang lebih ketat dapat membatasi eskalasi militer lebih lanjut. Namun, proses negosiasi masih dipenuhi ketidakpastian dan risiko geopolitik di Timur Tengah belum sepenuhnya mereda.

