Poin Penting
- BI selalu menjaga stabilitas rupiah demi menciptakan iklim ekonomi kondusif dan mendorong sektor riil.
- Gubernur BI sebut kombinasi intervensi, suku bunga, hingga SRBI sebagai seni menjaga stabilitas.
- BI pastikan terus lakukan intervensi pasar NDF dan DNDF yang terbukti efektif meredam gejolak.
JAKARTA, investortrust.id – Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menjelaskan bahwa BI berkomitmen untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Ini adalah langkah penting mengingat tugas utama BI adalah memastikan stabilitas nilai tukar guna mendorong pertumbuhan ekonomi.
“Kami di BI punya mandat utama menjaga stabilitas. Terlebih, kami juga bertanggung jawab untuk menciptakan iklim ekonomi yang kondusif agar sektor riil bisa berkembang dan membuka lapangan kerja,” ucap Destry saat menggelar konferensi pers hasil Rapat Berkala Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) IV Tahun 2026, di Jakarta pada Selasa (3/11/2026).
Menjaga stabilitas nilai tukar rupiah ini bukanlah perkara mudah, Destry mengungkapkan bahwa ada seninya tersendiri. Salah satu cara yang digunakan BI adalah melalui intervensi, di samping kebijakan suku bunga acuan, Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), dan berbagai insentif untuk biaya hedging yang saat ini dalam tahap pengembangan.
“Kami menggabungkan semuanya, jadi bisa dibilang kebijakan yang kami jalankan untuk menjaga stabilitas rupiah itu mirip seni. Kapan kita harus fokus pada satu instrumen dan kapan beralih ke yang lain menjadi bagian dari strategi kami,” jelasnya.
Destry juga memastikan bahwa BI tidak akan berhenti melakukan intervensi untuk menjaga stabilitas. BI fokus untuk melakukan intervensi di pasar Non Deliverable Forward (NDF) dan Domestic Non Deliverable Forward (DNDF).
“Sejauh ini, kami melihat langkah-langkah yang diambil cukup efektif,” kata Destry.
Stabilitas, menurutnya, adalah tolak ukur penting bagi BI. Untuk mencapai hal ini, BI telah mempersiapkan sejumlah kebijakan dan langkah-langkah strategis.
“Iklim ekonomi yang kondusif itu harus ada stabilitas. Tanpa stabilitas, tidak mungkin ada kondisi yang kondusif,” tegasnya.
Sebelumnya, Destry mengungkapkan bahwa nilai tukar rupiah mengalami tekanan pada bulan Oktober dan November 2026. Ia menjelaskan bahwa pada akhir September, rupiah sempat menguat di level Rp 17.830 per dolar AS.
“Namun, di bulan Oktober dan November, rupiah mengalami pelemahan hingga mencapai Rp 18.145 per dolar AS pada 2 November,” jelasnya.
Menurut Destry, pelemahan ini terjadi akibat eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah dan dampak dari kebijakan moneter yang semakin ketat di AS.
“Sentimen investor global terhadap aset negara berkembang juga berperan dalam hal ini,” tambahnya.
Lebih lanjut, Destry memberikan informasi terkait aliran investasi portofolio asing yang mengalami net outflows sebesar US$ 0,08 miliar pada kuartal III-2026. Ini terutama disebabkan oleh keluarnya modal dari pasar saham.
Namun, ada kabar baik pada awal kuartal IV-2026, sampai dengan 23 Oktober, arus modal asing menunjukkan perbaikan dengan catatan net inflows sebesar US$ 0,04 miliar. Arus ini didorong oleh investasi dalam Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

