Indonesia merasakan dampak langsung dari kebakaran, sementara negara-negara tetangga relatif terlindungi dari masalah ini.
[SINGAPURA] Meskipun terjadi gangguan luas akibat kabut asap transboundary yang sangat intens, para ekonom tetap mempertahankan proyeksi pertumbuhan tahun 2026 untuk Indonesia, Malaysia, dan Singapura. Namun, mereka mengingatkan bahwa ada risiko penurunan terhadap perekonomian Indonesia.
Berbeda dengan itu, pertumbuhan di Malaysia dan Singapura didorong oleh sektor manufaktur, elektronik, dan keuangan yang sebagian besar terlindungi dari kabut asap regional tahun ini.
Asap beracun dari kebakaran di Sumatra dan Kalimantan telah menyelimuti wilayah luas di Asia Tenggara selama beberapa pekan. Indeks Standar Polutan di Singapura telah berada di level tidak sehat sejak 4 September, sementara Malaysia terpaksa menutup sekolah-sekolah di Kuala Lumpur dan beberapa negara bagian, dan kualitas udara di beberapa bagian Kalimantan Tengah Indonesia mencapai tingkat berbahaya.
Kondisi ini menunjukkan betapa rapuhnya situasi perekonomian Indonesia di saat tetangga kita tampak lebih tangguh. Kualitas udara yang buruk sudah pasti berdampak pada kesehatan masyarakat dan, lebih jauh, produktivitas ekonomi. Kebakaran yang sepertinya tidak kunjung padam ini juga meningkatkan beban bagi pemerintah dalam mengatasi masalah kesehatan dan perekonomian yang diakibatkannya.
Sementara Indonesia berusaha mempullback dari situasi yang tidak menguntungkan ini, Malaysia dan Singapura dengan cepat beralih ke sektor-sektor yang dapat mendatangkan pendapatan meskipun kondisi cuaca tidak mendukung. Ketergantungan Indonesia pada sumber daya alam dan penyediaan layanan yang terdampak oleh kabut asap memperbesar tantangan bagi perekonomian, terutama ketika perekonomian global jauh dari stabil.
Beberapa analis menyarankan agar pemerintah Indonesia segera mencari solusi jangka panjang untuk mengatasi kebakaran hutan, termasuk pengelolaan lahan yang lebih baik dan penegakan hukum yang lebih ketat terhadap pembakaran ilegal. Tanpa langkah konkret, risiko pertumbuhan yang lebih rendah untuk Indonesia sangat mungkin akan terjadi.
Dengan latar belakang ini, fokus investasi di tanah air harus diarahkan tidak hanya pada sektor tradisional tetapi juga pada inovasi dan diversifikasi yang dapat memperkuat daya tahan ekonomi. Inisiatif ini bukan hanya penting untuk memitigasi dampak kebakaran, tetapi juga untuk membangun fondasi yang lebih kuat di masa depan.
Sebagai investor atau penggemar pasar modal, saatnya untuk memperhatikan bagaimana faktor eksternal, seperti kualitas udara dan bencana alam, bisa mempengaruhi kinerja pasar. Dengan mempertimbangkan risiko-risiko ini, kita bisa mengoptimalkan strategi investasi demi hasil yang lebih baik di masa depan.

