Asean sedang berupaya untuk mempermudah pergerakan barang dan bisnis di seluruh Asia Tenggara, seiring langkah regional ini untuk memperkuat hubungan ekonomi. Hal ini disampaikan oleh Wakil Perdana Menteri Gan Kim Yong dalam sebuah postingan di Facebook pada Sabtu (19 September).
Para menteri ekonomi Asean sepakat untuk meluncurkan perjanjian perdagangan barang regional yang diperbarui lebih awal dari jadwal. Keputusan ini adalah salah satu hasil penting dari hari pertama pembicaraan dalam Pertemuan Menteri Ekonomi Asean dan Pertemuan Terkait yang diadakan di Manila dari 19 hingga 22 September.
Perjanjian Perdagangan Barang Asean (ATIGA) mengatur perdagangan barang di dalam kawasan, dengan aturan yang bertujuan mengurangi hambatan perdagangan dan mempermudah bisnis untuk menjual produk mereka di berbagai pasar. Awalnya, perjanjian yang diperbarui ini dijadwalkan berlaku mulai 1 Juni 2027, atau 18 bulan setelah ditandatangani. Namun, Asean kini bergerak untuk mempercepat implementasinya hingga akhir 2026.
Gan menjelaskan bahwa peluncuran lebih awal ini akan memungkinkan barang bergerak lebih mudah melintasi perbatasan dan memberikan akses yang lebih baik bagi bisnis ke pasar di seluruh kawasan.
“Arah Asean sudah jelas: Kami akan tetap bersatu untuk mengintegrasikan lebih dalam di dalam kawasan dan memperkuat kemitraan di luar itu,” tegasnya.
Langkah ini diambil di saat Asean berusaha meningkatkan perdagangan di dalam kawasan di tengah ketidakpastian ekonomi global. Dengan ATIGA yang diperbarui, Asean ingin lebih lanjut memotong hambatan perdagangan dan meningkatkan pergerakan barang di Asia Tenggara, termasuk melalui pembaruan atas prosedur bea cukai, rantai pasokan, dan langkah-langkah perdagangan lainnya.
Gan yang juga menjabat sebagai Menteri Perdagangan dan Industri menambahkan bahwa para menteri ekonomi juga mempersiapkan tinjauan terhadap Perjanjian Perdagangan Jasa Asean. Ini dilakukan untuk memastikan aturan terkait perdagangan jasa tetap sejalan dengan perubahan di dalam ekonomi.
Selain itu, para menteri juga mendiskusikan kebutuhan akan rencana yang jelas untuk mengimplementasikan Perjanjian Kerangka Ekonomi Digital Asean, yang diharapkan dapat ditandatangani saat pemimpin Asean bertemu di Manila pada bulan November mendatang.
Perjanjian ini bertujuan untuk mempermudah bisnis dan konsumen dalam bertransaksi di seluruh Asia Tenggara, mencakup area seperti e-commerce, pembayaran digital, aliran data lintas batas, dan keamanan siber.
Gan menekankan bahwa fokus saat ini adalah mengubah ambisi digital Asean menjadi hasil konkret bagi bisnis dan konsumen di seluruh kawasan.
“Saya sangat menantikan untuk melanjutkan momentum baik ini dalam pertemuan dengan mitra dialog dan pihak eksternal dalam beberapa hari ke depan,” tutup Gan.

