Menjelang tahun 2036, kapasitas pembangkit listrik nuklir dunia diperkirakan bakal melonjak hingga 535 GW, naik dari 372 GW pada tahun 2025. Ini terjadi setelah bertahun-tahun pertumbuhan yang terbilang lambat, didorong oleh meningkatnya permintaan listrik dan upaya agresif dalam pembangunan reaktor di China dan India.
Menurut laporan terbaru dari BloombergNEF yang dirilis pada Rabu, 8 Juli, proyeksi ini menggambarkan potensi besar bagi sektor nuklir global dalam satu dekade ke depan.
Saat ini, China memiliki 59 GW reaktor yang sedang dibangun pada akhir tahun 2025. Negara ini diperkirakan akan mencapai total 102 GW pada akhir dekade ini, menjadikannya sebagai negara dengan kapasitas nuklir terbesar di dunia, melampaui AS.
Industri nuklir diuntungkan oleh beberapa tren kunci. Salah satunya adalah upaya internasional untuk mengendalikan perubahan iklim yang semakin mendorong permintaan akan energi bebas karbon dari reaktor. Hal ini sejalan dengan meningkatnya kesadaran global akan pentingnya penggunaan sumber energi yang ramah lingkungan.
Saat bersamaan, permintaan listrik pun melonjak, dipicu oleh pengguna industri, rumah-rumah yang semakin teraliri listrik, dan pusat data yang membutuhkan daya besar. Sektor-sektor ini berkontribusi pada dorongan besar bagi konsumsi energi yang lebih berkelanjutan.
Selain itu, penerimaan sosial yang semakin baik terhadap energi nuklir mendorong utilitas dan pemerintah di seluruh dunia untuk mempertimbangkan kembali kebijakan yang sebelumnya menghambat perkembangan sektor ini. Kesadaran masyarakat bahwa energi nuklir bisa menjadi solusi yang efektif dalam mengatasi krisis energi dan perubahan iklim membuat banyak pihak mulai mengubah pandangannya.
Namun, pertumbuhan kapasitas ini tidak akan lepas dari tantangan. Proses regulasi yang lambat biasanya menjadi penghambat bagi proyek nuklir baru. Di AS, meski ada dukungan kuat terhadap teknologi ini dari pemerintahan Trump, hanya ada satu pabrik komersial yang sedang dibangun, meskipun BloombergNEF memperkirakan bahwa laju pembangunan akan meningkat dalam dekade mendatang.
Dalam laporan tersebut, dicatat bahwa “Energi nuklir pada dasarnya ‘berjalan di tempat’ sejak bencana Fukushima pada tahun 2011. Namun, status quo ini sepertinya akan segera berubah.â€
Pendeknya, dengan berbagai faktor yang mendorong pertumbuhan dan permintaan, sektor nuklir global bersiap untuk memasuki fase baru, di mana energi nuklir bisa menjadi salah satu andalan dalam memenuhi kebutuhan energi yang terus meningkat di masa depan.

