New York Stock Exchange (NYSE) semakin mendalami infrastruktur pasar berbasis blockchain. Presiden NYSE, Lynn Martin, menyebutkan bahwa bursa ini sedang mengembangkan platform untuk penyelesaian sekuritas bertoken. Pengumuman ini muncul di tengah tes yang dilakukan oleh perusahaan infrastruktur pasar tradisional untuk melihat apakah blockchain mampu menangani sebagian pasar saham tanpa mengorbankan kontrol yang selama ini diandalkan oleh investor.
Pada bulan Juli, Depository Trust & Clearing Corporation (DTCC) berhasil memproses perdagangan menggunakan sekuritas bertoken di lingkungan produksi langsung, melibatkan beberapa institusi keuangan. Rencana layanan tokenisasi ini akan diluncurkan pada bulan Oktober mendatang. NYSE juga telah mengajukan aturan yang memungkinkan saham dan ETF yang memenuhi syarat untuk diperdagangkan dalam bentuk bertoken melalui pilot DTCC.
JUST IN: 🇺🇸 NYSE is building a blockchain platform for 24/7 trading and settlement of tokenized securities.
– Lynn Martin, NYSE President pic.twitter.com/ndc5FpTku0
— Crypto India (@CryptooIndia) August 10, 2026
Yang membuat langkah NYSE ini sangat signifikan adalah skala infrastruktur yang mendasari proyek ini. Depository Trust Company (DTC), sebagai cabang penyelesaian dari DTCC, saat ini memegang lebih dari $114 triliun dalam sekuritas. Layanan tokenisasi ini dirancang untuk merepresentasikan aset yang sudah ada dalam sistem tersebut.
Untuk tahap awal, layanan ini akan terbatas pada aset yang sangat likuid, seperti perusahaan-perusahaan yang terdaftar dalam Russell 1000, ETF indeks utama, dan sekuritas pemerintah AS. Jika uji coba ini berjalan sukses, tokenisasi bisa perlahan-lahan berpindah dari penggunaan aset digital yang terpisah menjadi bagian dari infrastruktur yang mendukung sekuritas mainstream.
Tokenisasi Saham Bisa Mengurangi Biaya untuk Investor
Potensi penghematan adalah salah satu alasan kuat bagi Wall Street untuk mengejar konsep tokenisasi. Sebuah studi oleh Bank for International Settlements pada tahun 2024 memperkirakan bahwa tokenisasi bisa mengurangi biaya di berbagai area, termasuk perdagangan, penyelesaian, dan manajemen jaminan, terutama di bagian yang saat ini melibatkan banyak perantara dalam transaksi yang sama. Penghematan ini dapat terasa lebih berarti di pasar di mana aset sering digunakan sebagai jaminan atau berpindah antara institusi keuangan.
Dampak dari perubahan ini bisa mengurangi jumlah modal dan pekerjaan administratif yang terlibat antara perdagangan dan penyelesaian akhirnya. Hal ini akan mempercepat bagaimana jaminan digunakan kembali dan mengurangi beberapa biaya yang dibebankan institusi kepada klien.
Apakah Tokenisasi Akan Mengaburkan Batas Antara Wall Street dan Crypto?
World Economic Forum memperkirakan bahwa pada tahun 2025, aset bertoken bisa mencapai nilai $2 triliun pada tahun 2030 dalam skenario konservatif, dan bahkan bisa mencapai $4 triliun dalam kondisi yang lebih optimis. Perkiraan ini mencakup berbagai aset, mulai dari obligasi, dana, pinjaman, hingga instrumen keuangan lainnya, bukan hanya saham.
Proyeksi ini menjadi penting karena menunjukkan bahwa langkah NYSE berpotensi menjadi bagian dari perlombaan yang lebih besar untuk mendigitalkan aset tradisional. Jika sekuritas bertoken mendapat perhatian, infrastruktur crypto seperti blockchain, stablecoin, dan dompet digital bisa menjadi bagian dari pasar modal konvensional tanpa membuat investor merasa mereka adalah pengguna crypto.
Di sisi lain, NYSE Arca dan NYSE American sudah menghapus batas posisi dan batas eksekusi yang selama ini ada pada opsi terkait sekelompok ETF Bitcoin dan Ether, membuka peluang untuk perdagangan yang lebih besar dan fleksibel.

