Zondacrypto kini menghadapi sorotan yang semakin tajam setelah laporan muncul bahwa CEO-nya, Przemysław Kral, telah berkunjung ke Israel. Sementara itu, pihak berwenang Polandia tengah menyelidiki bursa kripto ini terkait tuduhan penipuan dan kerugian yang dialami oleh para investor.
Menurut media Polandia, Onet, Kral sudah berada di Israel selama sekitar satu minggu dan memiliki kewarganegaraan Israel. Ini bisa bikin proses ekstradisi jadi semakin rumit jika langkah hukum meningkat. Situasi ini berkembang ketika jaksa di Polandia memperluas penyelidikannya setelah menerima banyak keluhan dari pengguna yang kesulitan mengakses dana mereka.
Keadaan makin pelik setelah Kral mengungkapkan minggu lalu bahwa Zondacrypto kehilangan akses ke cold wallet yang berisi sekitar 4,500 Bitcoin. Pernyataan tersebut menandai komunikasi publiknya yang terakhir, dan upaya untuk menghubunginya melalui email dikabarkan gagal.
Jaksa Polandia menyatakan bahwa kasus ini bisa melibatkan ratusan korban, dengan kerugian yang diperkirakan mencapai setidaknya 350 juta zloty Polandia (sekitar $97 juta). Skala kerugian yang diduga ini telah menimbulkan kepanikan di antara komunitas kripto di negara itu dan sekitarnya.
Pertanyaan tentang tata kelola dan pengunduran diri anggota dewan
Krisis ini juga memicu dampak internal. Beberapa anggota dewan pengawas dari BB Trade Estonia OÜ, entitas yang mengoperasikan Zondacrypto, telah mengundurkan diri dengan alasan kekhawatiran serius mengenai tata kelola.
Anggota dewan yang sebelumnya, Georgi Džaniašvili, mengungkapkan bahwa dewan pertama kali mengetahui tentang seriusnya situasi ini melalui laporan media, bukan dari informasi internal. Dia menunjukkan adanya ketidaksesuaian antara pernyataan publik dan informasi intern, memperingatkan bahwa kontrol terpusat dalam perusahaan telah merusak transparansi dan kepercayaan.
Otoritas Polandia ambil alih meskipun terdaftar di Estonia
Walaupun Zondacrypto terdaftar di Estonia, keberadaannya yang kuat di Polandia, khususnya di kalangan pengguna berbahasa Polandia, telah mendorong pihak berwenang lokal untuk memimpin penyelidikan ini.
Bursa ini awalnya didirikan di Katowice pada tahun 2014 sebagai BitBay oleh Sylwester Suszek. Namun, Suszek dilaporkan hilang sejak 2022, dan Kral baru-baru ini mengisyaratkan bahwa dia mungkin bertanggung jawab atas wallet yang tidak dapat diakses itu.
Kontroversi ini juga menarik perhatian politik. Perdana Menteri Polandia, Donald Tusk, mengaitkan platform ini dengan kemungkinan adanya pengaruh asing dan memperingatkan bahwa hingga 30,000 pengguna bisa terdampak. Kasus yang sedang berkembang ini kini dilihat sebagai ujian potensi untuk regulasi kripto yang sedang berkembang di Eropa, terutama di bawah Regulasi Pasar dalam Aset Kripto, sementara pihak berwenang mempertimbangkan langkah pengawasan yang lebih ketat di seluruh kawasan.

