Intisari Penting
- Eks CEO Goldman Sachs, Lloyd Blankfein, mengatakan bahwa banyak orang sukses bukanlah jenius; mereka hanya mampu melihat dan memanfaatkan peluang yang terlewatkan oleh orang lain.
- Menurutnya, kesuksesan lebih terkait dengan usaha keras yang konsisten dibandingkan dengan kecerdasan yang luar biasa.
- Kisah Blankfein dari perumahan publik di Brooklyn hingga posisi puncak di Goldman Sachs mendukung pandangannya ini.
Eks CEO Goldman Sachs, Lloyd Blankfein, menentang anggapan bahwa pekerja perlu memiliki IQ yang mengesankan untuk mencapai kesuksesan. Ia percaya bahwa perjalanan hidupnya, dari lantai perdagangan hingga posisi puncak di salah satu bank terkuat di dunia, membuktikan bahwa kesuksesan lebih bergantung pada kerja keras daripada bakat alami.
“Saya pernah bertemu dengan orang-orang yang bekerja keras, sukses, dan mendapatkan peluang baik. Mereka memang berhak mendapatkan pujian karena memanfaatkan kesempatan itu, tetapi mereka bukanlah jenius,” ungkap Blankfein baru-baru ini kepada CNBC International. “Mereka hanya menerapkan diri, memiliki kepedulian terhadap lingkungan sekitar, dan mampu melihat hal-hal yang mungkin tidak dilihat orang lain.”
Mengenang masa awalnya dalam dunia keuangan, Blankfein membagikan kisah yang sangat relevan. Ia menghabiskan tahun-tahun di J. Aron, sebuah perusahaan perdagangan komoditas kecil di dalam Goldman Sachs, berusaha membuktikan bahwa bisnis tersebut bisa jauh lebih besar. Ia melihat adanya kesenjangan budaya yang mencolok: Banyak karyawan J. Aron yang gigih dan tidak memiliki gelar sarjana, sementara Goldman dipenuhi dengan lulusan Ivy League.
Konteks perbedaan ini membuatnya merasa bahwa karyawan J. Aron memiliki semangat yang lebih besar. “Mereka bekerja lebih keras, tidak mengambil banyak hal untuk diangap sepele, dan lebih penasaran untuk belajar,” jelas Blankfein.
Pentingnya Kerja Keras
Kerja keras bisa jadi jauh lebih berharga daripada sekadar gelar akademis atau latar belakang. Blankfein percaya bahwa karir yang menonjol bisa diraih jika orang bersedia melangkah maju, melihat peluang, dan berusaha.
“Banyak dari peluang ini lebih mudah dijangkau daripada yang kamu pikirkan,” ujarnya. “Jika kamu berpikir bahwa seseorang hanya bisa mencapai posisi tersebut karena dia brilian dan hidup dalam kenikmatan di setiap tahap, maka kamu seperti menyerah.”
Blankfein sendiri menghidupi ide ini. Ia tumbuh di perumahan publik di Brooklyn, berbagi kamar dengan nenek atau saudarinya dalam sebuah apartemen kecil di New York, dan berhasil menjadi valedictorian di sekolahnya. Dia mendaftar di Harvard University pada usia 16 tahun untuk belajar sejarah, kemudian melanjutkan studi di Harvard Law School.
Setelah singkat berkecimpung di bidang hukum swasta, ia bergabung dengan firma perdagangan J. Aron, yang diakuisisi Goldman pada tahun 1981, dan menghabiskan beberapa dekade berikutnya untuk naik tangga karir. Blankfein menjabat sebagai CEO Goldman Sachs pada tahun 2006 dan menjalani peran ini selama 12 tahun hingga pensiun di tahun 2018.
Saat mengenang karirnya, Blankfein menilai pengalamannya “tidak hanya dapat dihubungkan, tetapi juga dapat diakses.”
“Secara statistik, tidak banyak orang yang mendapatkan peluang seluas itu, tetapi kamu bisa mencapai banyak hal dengan memanfaatkan peluang dan bekerja keras,” tambahnya.
Pendapat CEO Lain
Blankfein tidak sendirian dalam pandangannya bahwa usaha lebih penting daripada kecerdasan murni. CEO Goldman Sachs saat ini, David Solomon, juga mengungkapkan hal serupa dalam podcast Long Strange Trip milik Sequoia Capital tahun lalu. Ia menyatakan bahwa kandidat kerja terbaik mampu terhubung dengan orang lain, memiliki ketahanan, dan tekad, serta pengalaman dalam bekerja dengan orang.
“Pengalaman tidak bisa diajarkan,” kata Solomon dalam podcast. “Pengalaman sangat penting dalam organisasi besar, dan ketika itu penting, tidak masalah ketika semuanya berjalan baik. Namun, saat tantangan datang, kamu harus bisa membuat keputusan yang sulit.”

