Bank sentral Filipina tampaknya akan lebih berhati-hati dalam menaikkan suku bunga acuannya, seiring dengan perlambatan pertumbuhan ekonomi. Gubernur Eli Remolona mengungkapkan hal ini dalam sebuah forum yang diadakan oleh Asosiasi Jurnalis Ekonomi Filipina di Manila baru-baru ini.
Remolona menyatakan bahwa “pertumbuhan yang lebih lemah yang kita lihat berarti kita akan kurang agresif dalam mencoba menahan inflasi.” Pernyataan ini menunjukkan perubahan pendekatan bank sentral dalam menghadapi tantangan ekonomi saat ini.
Walaupun demikian, ia juga menekankan perlunya melihat “tren penurunan inflasi yang lebih meyakinkan sebelum kita dapat melonggarkan kebijakan.” Ini menunjukkan bahwa meskipun ada perubahan dalam pendekatan, perhatian terhadap inflasi tetap menjadi fokus utama bagi para pembuat kebijakan.
Filipina saat ini sedang menghadapi tantangan pertumbuhan yang paling lemah dan inflasi tercepat di antara ekonomi terbesar di Asia Tenggara. Hal ini terjadi setelah skandal korupsi yang merusak kepercayaan publik, ditambah konflik di Iran yang meningkatkan tekanan harga.
Pemerintah sebelumnya melaporkan bahwa ekonomi Filipina semakin melambat pada kuartal kedua, dimana masyarakat mulai mengurangi pengeluaran dan investasi juga menyusut. Ini menjadi sinyal bahwa ada yang tidak beres dalam ekonomi, yang bisa berdampak pada kebijakan moneter ke depan.
Remolona menilai pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) sebesar 2,3 persen yang dilaporkan pemerintah untuk kuartal kedua “tidak buruk-buruk amat.” Ini karena pertumbuhan tersebut didasarkan pada angka 5,4 persen dari tahun lalu, di mana sebagian besar berasal dari proyek kontrol banjir yang tidak berjalan sesuai rencana.
Ia menjelaskan bahwa output ekonomi pada kuartal kedua 2025 sebenarnya “hanya 4,6 persen,” dan pertumbuhan selama tiga bulan hingga Juni 2026 lebih tepat disebut sekitar 3,2 persen. Ini tentunya mempengaruhi cara bank sentral mengambil keputusan mengenai kebijakan moneter.
Remolona memastikan bahwa bank sentral akan melakukan apa yang diperlukan untuk mengembalikan inflasi ke target 3 persen. Dalam upaya ini, bank sentral telah menaikkan suku bunga sebesar 50 basis poin sepanjang tahun 2026, dan rencananya akan menggelar rapat penetapan suku bunga berikutnya pada 27 Agustus.
Menurut Remolona, pertumbuhan sebesar 3,2 persen masih tergolong lemah dan tren penurunan inflasi belum dapat dikatakan stabil. Keterangan ini menandakan tantangan yang masih harus dihadapi dalam upaya menstabilkan ekonomi Filipina ke depan.

