Seorang investor kripto asal Malaysia, Jeff Yew, sedang merencanakan ide untuk menghidupkan kembali sebuah kampus teknologi yang ditinggalkan setelah kejatuhan mendadak Network School yang dipimpin oleh Balaji Srinivasan. Rencana ini memiliki potensi untuk memberikan kehidupan baru bagi eksperimen yang sebelumnya menarik ratusan wirausahawan ke negeri ini.
Yew, yang juga seorang penggemar motorsport dan pernah memimpin Binance Australia, sedang mempertimbangkan untuk mendirikan kampus teknologinya sendiri di Forest City, proyek senilai 100 miliar dolar AS yang bermasalah di Malaysia selatan. Visi Yew berbeda dari pendekatan Srinivasan, dengan membawa semangat “Malaysia pertama” dalam rencananya.
Rencananya bisa memberi harapan tidak hanya bagi kampus yang kosong tersebut, tapi juga bagi Forest City – sebuah pulau buatan yang belum memenuhi harapannya sebagai metropolis futuristik. Ini juga dapat mendukung ambisi Malaysia untuk membangun ekonomi teknologi yang lebih beragam di luar sekadar pusat data.
Selama hampir dua tahun, banyak lulusan dan profesional yang terdaftar di Network School, yang menawarkan kombinasi keterampilan praktis dan visi ideologis tentang perkembangan teknologi dan masyarakat. Srinivasan, seorang investor kripto terkemuka dan mantan CTO Coinbase, memilih Forest City sebagai tempat percobaan, meskipun ia lebih sering menyebut lokasi ini sebagai “dekat Singapura.”
Pemerintah Malaysia memerintahkan penutupan sekolah tersebut pada bulan Juli setelah terjadi perselisihan publik antara kedua pihak, yang memaksa para siswa untuk meninggalkan negara. Beberapa hari setelah pengusiran itu, Yew mengungkapkan keinginannya untuk mengambil alih proyek dalam sebuah unggahan di media sosial, dan menyatakan bahwa ia telah memasuki pembicaraan awal dengan Srinivasan dan timnya.
Kampus yang Diusulkan
Saat ini, Yew memimpin Monochrome Asset Management, yang memiliki dana pertukaran yang terdaftar di Australia senilai sekitar 128 juta dolar Australia (90 juta dolar AS). Lamborghini Huracan Sterrato miliknya terdaftar dengan pelat nomor “Bitcoin.” Rencananya untuk kampus baru ini akan membawa sentuhan khas Malaysia.
Kampus ini berpotensi menjadi pusat bagi generasi baru entrepreneur teknologi – meskipun semua rencana ini masih jauh dari kepastian. Dalam wawancaranya, Yew mengatakan, “Ini tentang keseimbangan antara menarik bakat dari luar negeri dan juga membina wirausahawan lokal,” sambil mengusulkan kemungkinan program beasiswa untuk warga lokal.
Tujuannya adalah menjadikan negara bagian Johor sebuah “pusat digital” untuk kecerdasan buatan global, blockchain, dan ilmu komputer. Agar rencana ini berhasil, Yew menyatakan bahwa itu perlu dibangun di atas kepentingan Malaysia, termasuk komitmen untuk menghormati otoritas lokal.
Keberadaan Network School
Network School awalnya sejalan dengan ambisi Malaysia untuk menarik bakat teknologi dari luar, sekaligus mendukung lonjakan investasi pusat data dan AI yang telah membawa masuk puluhan miliar dolar AS ke negara tersebut. Sekolah ini menjadi tempat bagi siswa untuk mengembangkan startup mereka dengan orang-orang yang memiliki pemikiran sama, berbagi pengalaman, dan mengusung visi baru untuk masyarakat.
Srinivasan memiliki ambisi besar untuk area tersebut, termasuk rencana untuk membeli lahan tambahan untuk memperluas kampus dan mengoperasikan perahu antar Malaysia dan negara bagian tetangga Singapura. Beberapa bulan lalu, Menteri Digital Malaysia, Gobind Singh Deo, mengunjungi sekolah tersebut dan menyatakan keyakinannya bahwa itu “menegaskan posisi Malaysia sebagai tujuan yang berkembang untuk bakat teknologi global.”
Namun, sekolah tersebut mendapat sorotan setelah munculnya tuduhan bahwa siswa Israel tinggal dan belajar di kampus tersebut, yang melanggar aturan imigrasi Malaysia. Negara yang mayoritas Muslim ini tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel, dan pemegang paspor Israel dilarang masuk tanpa izin.
Kontroversi ini mengarah pada penggeledahan kampus dan pemeriksaan paspor semua siswa. Meskipun pejabat imigrasi menemukan bahwa seluruh siswa memiliki “dokumen perjalanan yang valid,” reputasi sekolah tersebut sudah tercemar. Penyelidikan lebih lanjut mengungkapkan pelanggaran hukum lain yang menyebabkan keluarnya surat pemberitahuan pengusiran.
Implikasi Masa Depan Teknologi Malaysia
Meskipun munculnya Network School mungkin menjadi catatan kaki dalam sejarah investasi teknologi Malaysia, negara ini tetap berambisi untuk naik di rantai nilai teknologi. Malaysia berupaya membangun ekonomi teknologi yang lebih berkelanjutan dan inklusif, dengan target menjadikan negara AI pada 2030.
Pemerintah juga sedang mengembangkan kemampuan desain chip dan menarik lebih banyak investasi di bidang AI dan pembuatan semikonduktor canggih. Secara bersamaan, mereka sedang berupaya menarik lebih banyak bakat teknologi ke negara ini melalui zona ekonomi khusus yang sedang dikembangkan dengan Singapura di Johor.
Adib Zalkapli, pendiri Viewfinder Global Affairs, berpandangan bahwa masa depan teknologi Malaysia masih bisa cerah. “Kasus ini akan diingat sebagai catatan kecil dalam sejarah investasi teknologi Malaysia,” ujarnya. “Ini tidak akan mempengaruhi pandangan perusahaan teknologi lain terhadap Malaysia.”

