Arthur Hayes, salah satu tokoh penting di dunia kripto, baru-baru ini mengungkapkan pendapatnya mengenai infrastruktur AI yang sedang berkembang. Ia berpendapat bahwa fenomena ini lebih mirip dengan pasar perumahan di AS sebelum krisis keuangan 2008 dibandingkan dengan gelembung dot-com. Hayes memperingatkan bahwa jika pembangunan pusat data melambat, bisa ada dampak yang besar pada utang terleverasi yang mencapai miliaran dolar.
Dalam sebuah esai yang ditulisnya, co-founder Maelstrom ini menyoroti bahwa investor melihat infrastruktur AI sebagai kisah teknologi, padahal pendanaannya mirip dengan pasar properti komersial. Menurutnya, perusahaan-perusahaan besar yang beroperasi dalam skala besar sedang meminjam banyak uang untuk membangun pusat data yang menyimpan chip AI. Hal ini menciptakan risiko kredit jika pembangunan itu melambat sebelum pendapatan cukup untuk menutupi utang tersebut.
Hayes memperkirakan bahwa percepatan pelambatan ini mungkin akan mulai terlihat pada tahun 2027 dan semakin jelas pada tahun 2028. Ia menekankan bahwa situasi ini dapat memicu intervensi pemerintah yang mirip dengan krisis keuangan di masa lalu. Dia juga menambahkan bahwa likuiditas yang dihasilkan dari situasi tersebut bisa menguntungkan Bitcoin, karena para investor cenderung mencari aset yang bernilai langka.
“Situationship” adalah esai bullish saya tentang Bitcoin yang menjelaskan bagaimana gelembung AI akan pecah dan mengapa cetakan uang akan kembali beroperasi untuk membawa kita ke pasar bullish yang menggembirakan.
“Pertanyaan mengenai kerangka internal adalah variabel kunci yang menentukan apakah AI adalah sebuah gelembung. Tetapi sebelum kita… pic.twitter.com/ix5SGiAcuv
— Arthur Hayes (@CryptoHayes) 5 Agustus 2026
Ujian Berikutnya untuk AI: Industri-Industrinya
Pengeluaran untuk AI kini tak hanya menguntungkan perusahaan yang membangun chatbot dan model bahasa. Microsoft, Amazon, Alphabet, dan Meta diperkirakan akan berinvestasi lebih dari $600 miliar dalam infrastruktur AI pada tahun 2026. Investasi ini akan menggairahkan permintaan untuk produsen chip, pembangun pusat data, pemasok energi, perusahaan konstruksi, dan perusahaan jaringan. Banyak bisnis ini pun berkembang dengan harapan investasi AI akan berlanjut dengan kecepatan yang sama.
Jika perusahaan mulai memperlambat investasi tersebut, dampaknya mungkin akan terasa di seluruh rantai pasokan sebelum muncul di produk AI itu sendiri. Membangun pusat data biasanya memakan waktu bertahun-tahun, dan banyak perusahaan telah mengalokasikan sumber daya berdasarkan ekspektasi permintaan masa depan ketimbang kebutuhan mendesak. Ini berarti bahwa proyek-proyek baru yang lebih sedikit bisa memengaruhi sektor konstruksi, energi, manufaktur peralatan, dan pembiayaan jauh sebelum industri AI merasakan dampak langsung.
Apakah AI Menjadi Katalis Likuiditas Berikutnya untuk Bitcoin?
Bitcoin sering kali lebih merespons perubahan likuiditas global dibandingkan dengan siklus teknologi. Setelah pemerintah meluncurkan triliunan dolar dalam stimulus fiskal dan moneter selama pandemi, Bitcoin meroket dari sekitar $3,800 pada Maret 2020 hingga hampir $69,000 pada November 2021. Bahkan, ada juga lonjakan baru dengan harga mencapai lebih dari $73,000 pada tahun 2024 seiring dengan meningkatnya harapan akan kondisi keuangan yang lebih longgar dan aliran investasi dari institusi.
Sejarah ini membuat beberapa investor mengamati pembiayaan AI dengan seksama, karena jika utang yang terkait dengan pembangunan pusat data mulai memberikan tekanan pada pasar kredit, pemerintah dan bank sentral mungkin akan tertekan untuk menstabilkan pinjaman. Apalagi, AI menjadi prioritas strategis untuk pertumbuhan ekonomi dan daya saing nasional. Setiap langkah yang memberikan likuiditas ke pasar keuangan kemungkinan akan lebih luas dari sekadar sektor teknologi, dan bisa menguntungkan aset-aset seperti Bitcoin, yang secara historis menarik modal di periode likuiditas yang melimpah.
Reaksi Komunitas Kripto di X Terkait Pandangan Arthur Hayes
Pandangan Arthur Hayes menimbulkan reaksi beragam di kalangan komunitas kripto. Banyak pembaca memilih untuk mendebat asumsi di balik argumennya ketimbang warning yang ia sampaikan. Sebagian setuju bahwa memperlakukan pengeluaran infrastruktur AI sebagai belanja modal ketimbang riset dan pengembangan akan mengubah cara investor menilai pengembalian, memberi perusahaan waktu lebih untuk membuktikan nilai proyek pusat data yang mahal sebelum menghadapi tekanan untuk menghasilkan keuntungan.
Sementara itu, ada juga yang tidak yakin dengan pandangan Hayes bahwa pelambatan AI pada akhirnya akan menguntungkan Bitcoin. Beberapa mempertanyakan hubungan langsung antara investasi AI yang lebih lemah dengan harga kripto yang lebih tinggi, berargumen bahwa potensi keuntungan untuk Bitcoin akan sangat tergantung pada apakah pemerintah dan bank sentral merespons dengan langkah-langkah yang menambah likuiditas di pasar keuangan.
Dalam perkembangan lain, Hayes menunjukkan dukungannya untuk Hypercall dari Synapse Protocol, menggambarkan bursa opsi terdesentralisasi ini sebagai pesaing potensial untuk Deribit. Dukungan ini, ditambah dengan pembelian multimiliar dolar terhadap token SYN, mulai memicu kenaikan nilai sebelum trader bergerak untuk mengamankan keuntungan.

