Johor baru saja mengadakan pemilihan umum ke-16 dan hasilnya memberikan banyak harapan bagi para investor. Dengan hasil pemilihan yang jelas, keberlanjutan kebijakan, dan risiko interupsi yang minim pada proyek-proyek unggulan seperti Kawasan Ekonomi Khusus Johor-Singapura (JS-SEZ), banyak yang optimis mengenai iklim investasi di salah satu ekonomi dengan pertumbuhan tercepat di Malaysia.
Kemenangan besar Barisan Nasional, yang berhasil meraih 48 dari 56 kursi, menciptakan salah satu mandat terkuat dalam sejarah pemilihan negeri ini. Ini seakan jadi sinyal kuat bahwa kebijakan yang ada akan terus dijalankan dan mendukung kepastian bagi para investor.
Namun, mandat yang kuat ini juga memberikan tekanan pada Menteri Besar sementara, Onn Hafiz Ghazi. Pemerintah baru diharapkan mampu menciptakan lebih banyak lapangan kerja, perumahan yang terjangkau, serta pelayanan publik yang lebih baik bagi masyarakat Johor. Jika tidak, sulit untuk mencari alasan politik jika booming investasi tidak sesuai harapan.
Menurut Julia Goh, ekonom senior di UOB Malaysia, Johor sebenarnya sudah berhasil menarik investasi yang signifikan, dengan total investasi yang disetujui diperkirakan mencapai RM110 miliar hingga 2025. “Tantangannya sekarang adalah bagaimana menjadikan investasi tersebut nyata dalam eksekusi,” tegasnya.
Melihat hasil pemilihan, ekonom sepakat jika Johor tidak menunjukkan ketidakpastian politik bagi para investor. “Di Johor, risiko politiknya tidak ada. Yang ada adalah risiko jika akan ada pemilihan umum secara umum dalam waktu dekat,” ungkap Dr Geoffrey Williams, pendiri Williams Business Consultancy.
Sementara itu, Pakatan Harapan hanya berhasil memenangkan delapan kursi dari total kursi yang diperebutkan. Beberapa partai lain, seperti Perikatan Nasional dan Bersama, juga tidak mendapat kursi sama sekali, menunjukkan dominasi Barisan Nasional di pemilihan ini.
Teh Kee Sin, penasihat dan pendiri Asosiasi UKM Johor Selatan, menyatakan bahwa para pelaku bisnis menyambut baik mandat kuat ini untuk kebijakan yang berkelanjutan. “Kami khawatir tentang perubahan kebijakan yang mendadak. Kami berharap pemerintah bisa mempercepat pengembangan JS-SEZ, memperkuat hubungan dengan Singapura, dan terus menarik investasi asing langsung,” tambahnya.
Apa Kata Suara Rakyat
Anna Sulaiman, yang kembali ke Johor Jaya dari Singapura untuk memberikan suaranya, mengungkapkan harapannya. Dia berharap pemerintah baru mampu menciptakan pekerjaan berkualitas tinggi sehingga dia bisa kembali ke kampung halamannya secara permanen.
“Kita jarang dilibatkan dalam keputusan pemerintahan, tapi saya percaya suara kita penting untuk memberikan tahu apa yang dibutuhkan oleh rakyat,” ujarnya.
Dua anaknya ditinggal di Johor bersama neneknya sementara dia dan suaminya tinggal dan bekerja di Singapura. Mereka hanya bisa pulang saat libur kerja. Anna menambahkan bahwa isu-isu yang disampaikan kedua pihak, baik Barisan Nasional maupun Pakatan Harapan, sangat relevan baginya, seperti pekerjaan yang lebih baik dan solusi dari kenaikan biaya hidup. “Jika ada pekerjaan di dekat rumah yang cukup untuk menghidupi keluarga, saya tidak keberatan untuk kembali,” tuturnya.
Seorang warga Johor lain yang juga pulang untuk memilih namun memilih untuk tidak disebutkan namanya, memiliki prioritas yang sama dalam mencakup biaya hidup yang lebih rendah, perumahan yang terjangkau, peluang karir, dan infrastruktur transportasi publik yang lebih baik.
Keinginan mereka mencerminkan tantangan yang lebih luas di Johor di fase transformasi ekonominya yang akan datang. Negeri ini memimpin pertumbuhan nasional dengan ekspansi GDP 8 persen pada kuartal pertama 2026.
Isu-Isu Vital dalam Manifesto
Selama kampanye, baik Barisan Nasional maupun Pakatan Harapan sepakat pada arah ekonomi jangka panjang Johor, termasuk mendukung JS-SEZ dan industrialisasi yang berkelanjutan. Barisan Nasional menekankan stabilitas dan pelaksanaan strategi pertumbuhan yang sudah ada, sementara Pakatan Harapan lebih menyinggung pada bagaimana memastikan pertumbuhan tersebut dapat meningkatkan pendapatan rumah tangga, perumahan yang terjangkau, dan standar hidup yang lebih baik.
Setelah pengumuman kemenangan, Onn Hafiz menekankan pentingnya melayani semua warga. “Tanggung jawab kami sekarang adalah membangun Johor sesuai harapan kita semua,” katanya.
Ketua Barisan Nasional, Ahmad Zahid Hamidi, menambahkan bahwa pemerintah Johor akan bekerja sama dengan pemerintah federal untuk mempercepat pembangunan dan meningkatkan manfaat ekonomi.
Proyek Besar di Depan
Pada saat yang sama, Jeffrey Lai, presiden Kamar Dagang dan Industri Tiongkok Johor Bahru, menegaskan bahwa pelaku bisnis kini lebih fokus pada implementasi proyek-proyek besar seperti JS-SEZ dan Rapid Transit System (RTS) Link.
Sentimen investor tetap positif sepanjang kampanye, dan komunitas bisnis berharap mandat kuat ini dapat mempercepat pengembangan infrastruktur dan menarik lebih banyak investasi berkualitas.
Namun, warga Johor menjadi lebih kritis dalam menilai pemerintah, lebih menghargai hasil daripada retorika politik. “Orang ingin melihat apa yang telah dilakukan untuk mereka. Itu lebih penting,” tambahnya.
Tantangan Kesejahteraan Bersama
Wong Chin Yoong, profesor ekonomi di Universiti Tunku Abdul Rahman, menyatakan bahwa warga Johor menghadapi “perpaduan antara euforia makroekonomi dan kecemasan pragmatis.” Meskipun terdapat ratusan miliar ringgit dalam investasi asing yang dijanjikan dan direalisasikan, angka-angka itu tidak serta merta berujung pada kesejahteraan langsung bagi masyarakat.
Dia menekankan bahwa tantangan selanjutnya adalah mengubah hype investasi menjadi kekayaan lokal yang nyata dengan melibatkan lebih banyak usaha kecil dan menengah dalam rantai pasokan manufaktur multinasional.
Prof Wong juga menyerukan percepatan pelaksanaan kerangka JS-SEZ, terutama penetapan tarif pajak penghasilan flat 15 persen bagi pekerja berbasis pengetahuan, untuk membantu mengurangi kesenjangan upah dengan Singapura.
Menurut Julia Goh, ada empat area utama yang perlu diprioritaskan oleh pemerintahan berikutnya: pengembangan talenta, penguatan infrastruktur daya dan air, meningkatkan keterjangkauan perumahan, dan memperluas kapasitas logistik.
Dia menjelaskan bahwa industri dengan nilai tambah tinggi di Johor memerlukan keterampilan khusus yang memakan waktu bertahun-tahun untuk dikembangkan. Di saat yang sama, upah yang lebih tinggi di Singapura mengalihkan banyak pekerja terampil.
Infrastruktur yang handal sangat penting untuk mendukung pusat data dan manufaktur maju. Selain itu, perumahan yang terjangkau juga harus memberikan perhatian seiring dengan masuknya investasi, dan kapasitas pengiriman di Causeway dan Second Link masih menjadi hambatan bagi para produsen.
Keberlanjutan Politik
Ambisi Johor tetap besar. Melalui Rencana Transformasi Ekonomi Johor, negara bagian ini menargetkan GDP mencapai RM260 miliar pada tahun 2030, menciptakan lebih dari 200.000 lapangan kerja, dan meningkatkan GDP per kapita di atas RM69.000, melebihi ambang batas untuk ekonomi berpenghasilan tinggi menurut World Bank.
Namun, Teh memperingatkan bahwa booming investasi ini justru dapat membebani usaha kecil dengan meningkatnya biaya sewa, upah, dan pengeluaran operasional. Kenaikan ini bisa mengancam daya saing lokal meskipun aliran investasi besar terus mengalir.
Bagi UMKM, dukungan dari pemerintah melalui hibah dan program pendanaan sangat dibutuhkan. “Bagi bisnis, perhatian sudah beralih dari hari pemungutan suara. Yang lebih penting adalah setelah pemilihan ini – siapa yang bisa memperbaiki keadaan negeri ini. Ini yang diharapkan masyarakat bisnis,” tutupnya.

