Generative AI mungkin tanpa sengaja telah menjauhkan beberapa kontributor ‘ahli’ berkualitas tinggi dari situs seperti Stack Overflow, seiring dengan semakin banyaknya pengguna yang mengadopsi alat yang dilatih berdasarkan umpan balik mereka. Permasalahan ini muncul karena pengguna merasa usaha dan keahlian mereka tidak dihargai, sementara AI sering kali menawarkan solusi yang sama dengan kecepatan yang lebih tinggi.
Berdasarkan riset dari University of Auckland, ada tren yang semakin memprihatinkan di komunitas perangkat lunak: kontribusi dari para ahli atau yang memiliki keterampilan terbaik semakin banyak ditinggalkan. Meskipun AI bisa membantu menjembatani kesenjangan antara coder pemula dan yang lebih berpengalaman, tampaknya kehadiran AI malah mempercepat keluarnya kontributor terbaik dari komunitas online, karena mereka merasakan bahwa usaha mereka kini tidak lagi dihargai seperti sebelumnya.
Sejak kemunculan ChatGPT pada tahun 2022, Stack Overflow mencatat penurunan hampir 76% dalam jumlah pertanyaan bulanan yang diposting. Hal ini menunjukkan bahwa baik pengguna baru maupun yang sudah ada, telah meninggalkan situs tersebut.
Masalah yang Lebih Luas dari Sekadar Stack Overflow?
Masalah yang dihadapi Stack Overflow dan alasan penurunannya begitu kompleks; banyak pengguna merasa bahwa situs ini dan beberapa kontributor terbaiknya terjebak dalam arogansi tertentu. Ditambah dengan moderasi ketat yang sering dianggap ‘pendekatan yang kurang bijaksana’, banyak pengguna akhirnya mencari opsi yang lebih baik di luar platform.
ChatGPT dan pilihan AI lainnya menawarkan kemudahan yang lebih, dan seiring waktu, banyak coder justru menggunakan AI sebagai mesin pencari untuk pertanyaan yang rutin dan repetitif. AI pun kini mampu menangani masalah syntax dengan lebih baik daripada sebelumnya.
Akibatnya, jumlah pertanyaan di platform ini mengalami penurunan drastis. Meskipun ada larangan penggunaan AI generatif yang dilaksanakan segera setelah ChatGPT diluncurkan, kehilangan kontributor yang mungkin tidak akan tergantikan ini berpotensi menimbulkan masalah jangka panjang.
Masalahnya mungkin tidak hanya terbatas pada komunitas coding online. Peneliti menunjukkan bahwa ini bisa juga merambah ke area lain seperti ruang kelas, tempat kerja, dan komunitas ilmiah lainnya, di mana jawaban yang dihasilkan dengan sedikit usaha semakin sulit dibedakan dari jawaban para ahli karena model AI yang terus berkembang.
Dr. Kenny Ching, penerbit studi tersebut, menjelaskan bahwa “Jika semua orang dapat membuat jawaban atau output berkualitas baik menggunakan AI, beberapa orang mungkin berpikir, ‘Mengapa saya harus berusaha untuk berbagi keahlian saya dan berpartisipasi?’†Ching menamai fenomena ini ‘kompresi sinyal’ di mana solusi dari ahli dan non-ahli semakin sulit untuk dibedakan, meski menjadi seorang ahli kini terasa kurang menguntungkan di topik-topik yang juga mudah dipegang oleh AI.
Yang menjadi pertanyaan adalah, jika AI dilatih dengan data yang disumbangkan oleh pengguna dan saat ini semakin sedikit data tersebut yang ada di platform seperti Stack Overflow, ke mana arah ‘reset pengetahuan’ mendatang dalam hal kemampuan AI? Walaupun model AI di masa depan tidak akan menjadi ‘lebih bodoh’, mereka mungkin akan mencari jalur pelatihan yang berbeda, seperti obrolan di Slack, server Discord, atau bahkan dari pengguna yang terus menanyakan pertanyaan coding yang sama seperti yang pernah mereka lakukan di Stack Overflow.
Apakah ini akan menggantikan para ahli yang tidak lagi mau berkontribusi atau justru membuat AI semakin rentan terhadap kesalahan seiring berjalannya waktu, mengingat bagaimana umpan balik dalam sistem tersebut berfungsi, menjadi pertanyaan menarik di masyarakat yang semakin kesulitan membedakan antara jawaban AI dan manusia.

