Provider cloud asal Eropa, Nextcloud, baru saja mengalami insiden yang cukup serius. Mereka mengungkapkan bahwa ada database yang tidak terlindungi di internet publik, yang berhasil mengekspos data sensitif internal dan klien kepada siapa saja yang tahu di mana mencarinya, menurut penjelasan para ahli.
Nextcloud adalah platform gratis dan open source yang memungkinkan pengguna untuk membuat cloud pribadi mereka sendiri. Banyak orang mengenalnya sebagai alternatif dari Google Drive atau Microsoft 365, yang memberikan kontrol kepada pengguna mengenai lokasi penyimpanan data mereka.
Pada pertengahan Mei 2026, peneliti keamanan dari Cybernews menemukan sebuah cluster ElasticSearch yang diekspos secara publik. Setelah penyelidikan lebih mendalam, ditemukan bahwa cluster tersebut menyimpan sekitar 367.000 catatan yang totalnya mencapai 8GB. Data yang terekspos termasuk informasi karyawan Nextcloud, data perusahaan klien, kontrak, dan skrip yang dibuat untuk klien Nextcloud.
Mayoritas file-file yang terinfeksi berada dalam format .PDF (71 ribu), diikuti oleh .PNG (53 ribu) dan .MD (23 ribu). Seluruh catatan yang terekspos dikumpulkan dalam satu indeks, dengan beberapa di antaranya memperlihatkan informasi perusahaan klien serta data karyawan Nextcloud. Sayangnya, beberapa data tersebut tidak terenkripsi, yang mengakibatkan alamat email karyawan dan nama serta alamat perusahaan klien terekspos.
Saat Cybernews menghubungi Nextcloud, mereka segera mengamankan arsip tersebut dalam dua hari setelah pemberitahuan dan memberitahu pihak berwenang yang relevan. Meskipun mereka menyatakan tidak menemukan bukti akses tidak sah, tanpa analisis forensik mendalam, sulit untuk memastikan apakah itu benar adanya.
Tim Cybernews mengingatkan, “Jika tim kami bisa menemukan dataset yang diekspos, pelaku ancaman mungkin juga bisa.†Penyerang jahat sering kali menggunakan berbagai bot di internet untuk mencari database yang misconfigured dengan data yang mudah dicuri.
Perusahaan itu menyatakan bahwa masalah ini disebabkan oleh kesalahan konfigurasi dan bahwa layanan mereka tetap aman. “Masalah ini disebabkan oleh kesalahan pengaturan infrastruktur hosting kami dan tidak terkait dengan solusi Nextcloud. Tidak ada server Nextcloud lainnya yang dimiliki pelanggan, mitra, atau pengguna lain yang terpengaruh oleh masalah ini,†kata juru bicara perusahaan kepada para peneliti.
Insiden ini menyoroti pentingnya keamanan dalam mengelola data, terutama ketika melibatkan informasi sensitif. Pengguna dan perusahaan perlu lebih menekankan perlindungan data mereka untuk mencegah kebocoran yang dapat merugikan. Dalam era digital saat ini, kesadaran akan keamanan data menjadi hal yang sangat vital.
Dengan semakin banyaknya data yang beredar di dunia maya, perusahaan seperti Nextcloud harus mengambil tindakan proaktif untuk menjaga keamanan infrastruktur mereka. Langkah-langkah ini tidak hanya untuk melindungi diri mereka sendiri, tetapi juga pelanggan dan mitra mereka yang mengandalkan layanan yang mereka tawarkan.

