[DILI] Timor-Leste kini beralih dari ketergantungan pada minyak menuju sektor pariwisata dan ekonomi biru. Langkah ini membuka peluang besar bagi perusahaan-perusahaan Singapura untuk memanfaatkan perkembangan yang muncul, terutama dengan adanya hubungan yang semakin baik antara kedua negara tetangga di Asia Tenggara.
Asosiasi bisnis Singapura berencana untuk mengadakan misi ke Timor-Leste agar perusahaan-perusahaan dapat melihat langsung berbagai area yang dapat dijajaki, tutur Perdana Menteri Lawrence Wong.
Pernyataan ini diungkapkan saat wawancara dengan media Singapura pada hari Jumat (3 Juli) yang menandai berakhirnya kunjungan dua harinya ke Timor-Leste.
Ini adalah kunjungan pertamanya ke negara Asia Tenggara tersebut dan juga kunjungan perdana Perdana Menteri Singapura ke negara muda ini sejak meraih kemerdekaan pada tahun 2002.
Wong berharap bahwa kunjungannya kali ini akan memicu minat lebih besar di kalangan masyarakat Singapura dan mendorong lebih banyak pertukaran serta interaksi antara warga Singapura dan rakyat Timor-Leste.
Ketika ditanya mengenai prospek jangka panjang negara tersebut, Wong menyatakan ada banyak alasan untuk optimisme—berkat populasi muda, kekayaan sumber daya, dan potensi pertumbuhannya yang besar.
“Saat bisnis masuk ke pasar yang sedang berkembang, mereka harus menyadari bahwa selalu ada kompleksitas saat beroperasi di luar negeri,†ujar PM Wong.
Dia menekankan bahwa perusahaan harus mengambil perspektif jangka panjang dan menemukan mitra lokal yang baik. Menurutnya, keputusan ini harus diambil oleh masing-masing perusahaan, karena pemerintah tidak bisa memberikan petunjuk dalam hal ini.
Perdana Menteri menghadiri resepsi di Dili pada hari Kamis, di mana dia bertemu dengan puluhan warga Singapura yang memiliki hubungan dengan Timor-Leste. Sekitar 50 hingga 60 orang di antaranya tinggal di negara tersebut, dengan mayoritas dari mereka adalah pebisnis dan misi kemanusiaan.
“Tidak semua orang berhasil—itulah sifat bisnis. Tetapi banyak di antara mereka yang berkembang dan optimis terhadap prospek yang ada,†tambahnya.
Bilateral yang semakin kuat
Wong mencatat bahwa kerjasama antara kedua negara kini “lebih kuat dari sebelumnya.†Dia menyebutkan bahwa rencana pembangunan Timor-Leste dan aspirasi mereka untuk menjadi anggota penuh ASEAN akan membuka lebih banyak peluang di masa mendatang.
Hubungan Singapura dengan Timor-Leste sudah terjalin sejak lama, bahkan jauh sebelum negara ini merdeka.
Singapura adalah salah satu negara pertama yang berkontribusi pada International Force East Timor pada bulan Agustus 1999. Mereka mempertahankan upaya menjaga perdamaian di negara ini selama lebih dari satu dekade serta meluncurkan berbagai program untuk mendukung perjalanan Timor-Leste menuju keanggotaan ASEAN.
Pada bulan April 2024, Singapura mendirikan kedutaan resminya di ibu kota Timor-Leste, Dili. Selanjutnya, pada bulan Maret 2025, Republik ini menunjuk duta besar pertamanya, Teo Lay Cheng.
“Kunjungan ini datang pada waktu yang tepat, saat mereka telah menjadi anggota penuh ASEAN. Ini adalah kesempatan baik untuk meningkatkan kemitraan kita dan bekerja lebih banyak bersama,†ujar Wong.
Jalan ke depan
Langkah dukungan berikutnya dari Singapura adalah membantu Timor-Leste tidak hanya untuk menerima manfaat, tetapi juga berkontribusi pada blok tersebut. Ini sangat relevan, mengingat aspirasi negara muda ini untuk menjadi ketua ASEAN pada tahun 2029.
“Semua yang pernah menjalani ketuaan ASEAN tahu bahwa itu adalah tanggung jawab yang besar. Karena itu, kami kembali siap mendukung (Timor-Leste),†ungkap perdana menteri. Ini termasuk memperkuat paket dukungan yang ada dengan lebih banyak program terkait ASEAN.
Pejabat Timor-Leste akan mendapatkan pelatihan dan seminar terkait ASEAN, kursus manajemen keuangan, serta kesempatan magang dengan tim Singapura selama periode kepemimpinan kota tersebut tahun depan.

