Malaysia bakal menurunkan harga diesel menjadi RM2.1 (S$0.64) per liter di seluruh negeri mulai Juli. Langkah ini diambil setelah perbedaan harga antara diesel bersubsidi dan tidak bersubsidi menyebabkan penyelundupan dan kerugian pendapatan.
Saat ini, diesel dijual dengan harga bersubsidi RM2.15 per liter di negara bagian Sabah dan Sarawak, sementara di Semenanjung Malaysia harganya mencapai RM4.37 per liter.
Perbedaan harga ini memicu kebocoran pendapatan dan penyelundupan diesel bersubsidi, termasuk ke luar negeri, menurut pernyataan dari Kementerian Keuangan pada hari Minggu (21 Juni).
Meskipun begitu, kementerian tersebut tidak menjelaskan bagaimana pemerintah akan membiayai tambahan subsidi ini, sementara anggaran publik sudah tertekan oleh kenaikan biaya bahan bakar akibat perang di Iran. Menteri Keuangan Kedua Amir Hamzah Azizan diharapkan akan mengumumkan rincian lebih lanjut pada hari Senin, kata kementerian.
Malaysia sedang mencari sumber bahan bakar alternatif karena konflik di Timur Tengah membatasi pasokan global.
Pada kesempatan terpisah, perusahaan energi nasional Petronas mengumumkan telah menandatangani beberapa kesepakatan baru di Turkmenistan, termasuk kolaborasi dengan perusahaan negara Turkmennebit dan Hazarnebit, untuk memperkuat keberadaan Petronas di Laut Kaspia dan memperluas portofolio hulu mereka.
Perdana Menteri Anwar Ibrahim mengatakan bahwa kesepakatan tersebut akan memungkinkan Malaysia mengakses salah satu cadangan gas terbesar di dunia, dan berpotensi meningkatkan ekspor ke negara mitra seperti China, Jepang, dan Korea Selatan, menurut berita dari agen pemerintah Bernama.
Selain itu, Rusia juga telah memastikan Malaysia tentang perjanjian jangka panjang untuk penyediaan minyak, gas, dan diesel selama minimal 20 tahun, kata Anwar, meskipun tidak memberikan rincian lebih lanjut.
Dengan langkah ini, Malaysia berharap bisa mengurangi ketergantungan pada impor bahan bakar serta meminimalkan efek dari ketidakstabilan politik yang terjadi di berbagai belahan dunia. Ini sejalan dengan upaya negara untuk menciptakan kemandirian energi yang lebih baik.
Ke depan, perhatian akan diarahkan pada bagaimana pemerintah dapat menggali potensi sumber daya yang ada dan memanfaatkan kesempatan ini untuk memperkuat ekonomi, di tengah tantangan yang ada. Pasar juga akan mengikuti perkembangan tersebut, termasuk dampaknya terhadap berbagai sektor industri.
Diharapkan, dengan kebijakan baru ini, Malaysia tidak hanya dapat menjaga harga bahan bakar yang lebih stabil, tetapi juga mendorong inovasi dalam pencarian sumber energi alternatif yang lebih berkelanjutan.

