[KUALA LUMPUR] Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim dan Presiden Rusia Vladimir Putin baru-baru ini membahas penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan bilateral. Ini merupakan bagian dari upaya untuk memperkuat ikatan ekonomi antara kedua negara.
Dalam pernyataan yang dikeluarkan oleh Kantor Perdana Menteri Malaysia pada Kamis (18 Juni), kedua pemimpin ini membicarakan “meneliti mekanisme” untuk memperluas perdagangan dan investasi bilateral dengan memanfaatkan ringgit dan rubel.
Mereka juga meninjau kemungkinan kerja sama yang lebih erat di bidang energi, termasuk komitmen Rusia untuk berkolaborasi dalam penyediaan energi dan minyak dalam jangka panjang. Selain itu, kedua pemimpin mengeksplorasi cara untuk memperluas hubungan ekonomi yang ada.
Anwar sedang berada di Kazan, sekitar 800 km di sebelah timur Moskow, untuk menghadiri pertemuan puncak selama dua hari yang diselenggarakan oleh Putin untuk para pemimpin Asean, yang akan berakhir pada hari Kamis.
Rusia sendiri telah menjadi pemasok energi utama untuk Asia Tenggara setelah perang antara AS-Israel dan Iran yang mengakibatkan penutupan Selat Hormuz. Penutupan ini sangat berdampak pada pasokan minyak dan gas yang vital bagi sekitar 680 juta penduduk di kawasan tersebut.
Inisiatif ini tampaknya menjawab kebutuhan mendesak untuk diversifikasi sumber energi di Asia Tenggara. Dengan situasi geopolitik yang tidak stabil, bergantung pada satu sumber atau rute pengiriman bisa menjadi risiko yang besar. Oleh karena itu, kerjasama dengan Rusia yang menawarkan stabilitas dalam pasokan energi dapat menjadi langkah strategis bagi negara-negara di kawasan ini.
Lebih lanjut, diskusi mengenai penggunaan mata uang lokal juga menunjukkan langkah maju dalam memfasilitasi perdagangan yang lebih lancar. Ini bisa membantu kedua negara mengurangi ketergantungan pada mata uang asing dan meningkatkan transaksi perdagangan tanpa harus terpengaruh oleh fluktuasi nilai tukar yang tinggi.
Dengan ada peluang lebih luas untuk berkolaborasi di sektor-sektor lainnya, kedua negara berharap dapat menarik lebih banyak investasi yang akan berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi masing-masing.
Saat ini, momentum kerja sama ini diharapkan dapat memberi dampak positif terhadap ekonomi negara-negara yang terlibat, serta menawarkan alternatif dalam pengadaan energi yang semakin penting dalam menghadapi tantangan global saat ini.
Seiring waktu, dengan terus terjalinnya hubungan ekonomi yang solid, ada harapan bahwa kerja sama ini tidak hanya akan menguntungkan kedua belah pihak, tetapi juga bisa mendorong pertumbuhan stabilitas di kawasan Asia Tenggara secara keseluruhan.

